FIN UNUSIA
Perspektif Islam Nusantara

Pesantren Tua dan Makam Keramat di Bogor

Tidak diketahui secara pasti kapan tradisi ziarah itu dimulai oleh masyarakat Muslim. Meski demikian, menurut Henri Chambert Loir-Claude Guillot (2010:1-2), tradisi ziarah ke makam-makam keramat sudah lebih dulu dilakukan oleh umat penganut agama samawi lain seperti umat Yahudi dan Nasrani.

Masih menurut Henri, tradisi ziarah yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Muslim dunia tidak bisa dilepaskan dari persoalan ibadah haji. Tempat-tempat yang dikeramatkan dan disucikan oleh masyarakat Muslim dianggap sebagai “pengganti” Makkah, tempat utama ibadah haji. Ia menulis (2010:2):

Karena haji sering tidak dapat dilaksanakan, maka rukun ini diganti dengan ziarah ke tempat keramat yang lebih dekat, dan kewajiban untuk melakukan ziarah itu beberapa kali mengingatkan kelebihan dari hajj yang sebenarnya. Ritus-ritus yang dilakukan di tempat-tempat ziarah itu sama dengan ritus yang dilakukan di Mekkah, yaitu tawaf seperti di Ka’bah, serta minum air dari sebuah sumur yang dianggap berhubungan dengan Zamzam. Mekkah sebagai kutub peta Islam seakan-akan memancarkan “cabang” melalui kesucian wali-wali yang berasal dari kutub itu.    

Apa yang dikemukakan oleh Henri dalam pengantar bukunya berjudul “Ziarah Wali” ini tidak semuanya tepat. Mengapa? Sebab, tidak semua makam yang dikeramatkan dan yang diziarahi oleh umat Islam memiliki ciri-ciri sebagaimana ia sebutkan di atas. Bahkan banyak di antaranya bukan karena motif kepercayaan pengganti haji.   

Dalam pandangan kaum Muslim Ahulussunnah wal Jamaah, ziarah kepada para wali yang merupakan kekasih Allah SWT dianggap layak sebagai penghubung antara peziarah dengan Allah SWT. Selain bermaksud membacakan puji-pujian yang ditujukan kepada para wali, doa-doa yang dipanjatkan memang tidak dimaksudkan untuk meminta kepada mereka, karena pengabul doa pada hakikatnya adalah sang Allah SWT itu sendiri. Jadi, wali hanya sebagai mediator (Suis, 2013: 66).

Wali dan Keramat

Berdasarkan definisi yang beredar luas di sejumlah buku, wali adalah orang-orang yang makrifat kepada Allah (al-Arif billah) serta menjalankan ketaatan dan menjauhi maksiat kepada-Nya, yang tidak menghiraukan kenikmatan-kenikmatan duniawi dan hal-hal yang secara hukum syar’i mubah. Dinamakan dengan wali karena ia adalah orang yang menjaga (tawalla) dirinya untuk beribadah kepada Allah secara istikamah.  

Ibnu Qunfudz Al-Qusantini pernah ditanya, “Apakah keramat seorang wali masih bermanfaat setelah ia meninggal?”, ia menjawab, “Ya. Keramat kewalian seseorang tidak terputus meski ia telah wafat. Bahkan lebih nampak. Banyak orang yang setelah meninggal baru diketahui secara luas keberkahannya. Kuburan orang-orang yang memiliki keramat memancarkan keberkahan”.

Ibnu Zayyat dalam At-Tasyawwuf ila Rijal at-Tashawwuf mengatakan bahwa Khariqul Adat hanya bisa nampak di tangan para pemilik karamah. Ketahuilah bahwa keramat hanya bisa muncul dari seorang wali sebagaimana mukjizat bagi para Nabi. Tidak sampai di situ, Ibnu Zayyat juga mengkritik orang-orang yang mengingkari keramat wali. Ia mengemukakan bahwa keberadaan keramat para wali hanya bisa dipercaya oleh orang-orang yang meyakininya (ahlul yaqin), bukan bagi selainnya (ahlus-Syakk).

Menziarahi Abah Falak Pagentongan dan KH. Abdullah bin Nuh

Bogor selain dijuluki sebagai kota hujan memiliki banyak destinasi ziarah. Sejumlah makam orang-orang saleh disemayamkan di kota yang diapit oleh Gunung Salak dan Gunung Gede ini.

Tim anjangsana yang terdiri dari civitas akademik Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama (FIN-UNUSIA) Jakarta melawat ke Pondok Pesantren Pagentongan. Pesantren ini merupakan salah satu Pondok Pesantren tua di wilayah Bogor yang didirikan oleh KH. Tubagus Muhammad Falak Abbas (w. 1972) yang lebih akrab dipanggil Abah Falak. Sebutan Falak ini konon sebagai bentuk penghormatan kepadanya atas keahliannya di bidang astronomi.  

Di Pesantren ini kami diterima oleh salah satu cicit Abah Falak. Kami berbincang banyak hal mengenai hal ihwal Abah Falak. Salah satunya tentang sanad dan jaringan keilmuan Abah Falak. Termasuk hubungannya dengan jaringan pesantren di Jawa. Mengingat, di Pesantren ini, sejak dulu hingga sekarang, tetap mempertahankan bahasa Jawa sebagai “makna gandul” dalam mengajarkan kitab kuning kepada para santrinya. Padahal, Abah Falak sendiri tidak pernah ditemukan informasi mengenai beliau belajar ke Jawa. Namun, beliau berjejaring dengan ulama-ulama Jawa di Makkah.

Selanjutnya kami bergegas menuju komplek pemakaman Pesantren Pagentongan  untuk menziarahi makam Abah Falak. Sebelum memasuki ruang pemakaman, kami diajak untuk mengunjungi kamar pribadi Abah Falak yang berada tidak jauh dari lokasi di semayamkannya ulama yang juga dikenal ahli hikmah ini.   

Dari Pagentongan kami menuju Pondok Pesantren Al-Ihya’ Bogor. Pondok ini merupakan “warisan” intelektual dari salah satu ulama kesohor di kota Bogor, Mama Abdullah bin Nuh. Di Pesantren ini kami disambut sangat hangat oleh anak menantu beliau, KH. Toto. Selain suguhan jamuan, kami juga disuguhi banyak karya-karya baik yang sudah diterbitkan maupun yang masih dalam bentuk manuskrip catatan tangan Mama Abdullah bin Nuh.

Dari hasil penelusuran atas manuskrip-manuskrip ini kami menyimpulkan bahwa beliau adalah salah satu ulama Nusantara yang menguasai banyak disiplin keilmuan. Selain tentunya ilmu sastra Arab yang memang bukan hanya diakui oleh ulama Indonesia, melainkan dunia. Misalnya, terdapat sebuah catatan tangan Mama Abdullah bin Nuh yang mengulas tentang filsafat empirisme-nya Jhon Locke dalam bahasa Arab.  

Dari Kramat Empang Ke Makam Raden Saleh

Selain bersilaturahmi ke sejumlah pesantren untuk menimba dan menggali sanad keilmuan di tatar Sunda, kami juga menziarahi makam-makam keramat para wali dan orang-orang Saleh di tanah Sunda.

Salah satu makam yang banyak diziarahi oleh para pegiat ziarah adalah Makam Kramat Empang.  Di sana terdapat makam Habib Abdullah b Muhsin Al-Atas. Lokasinya berada di Jalan Lolongok, RT 02 RW 04, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat. Daerah ini dinamakan Empang karena dulu dikelilingi oleh banyak empang yang mengitari wilayah ini.  

Makam Habib Abdullah, yang kemudian masyhur dengan julukan Habib Empang ini hampir tidak pernah sepi dari peziarah yang datang dari berbagai daerah. Makam Habib Empang berada di belakang mihrab Masjid yang konon dibangun oleh Habib Abdullah. Di komplek pemakaman ini juga disemayamkan putera-putera beliau. Di antaranya adalah Habib Mukhsin Bin Abdullah Al-Atas, Habib Zen Bin Abdullah Al-Atas, Habib Husein Bin Abdullah Al-Atas, Habib Abu Bakar Bin Abdullah Al Athas, Sarifah Nur Binti Abdullah Al-Athas, dan makam murid kesayangannya yaitu Habib Alwi Bin Muhammad Bin Tohir.

Tidak jauh dari pemakaman Habib Empang, sekitar 300 M ke arah Barat juga disemayamkan salah satu pejuang ternama, Raden Saleh. Kami menziarahi makam salah satu pelopor seni rupa modern di Indonesia ini dengan jalan kaki selepas ziarah ke Makam Kramat Empang.  Berbeda dengan Makam Habib Empang yang selalu ramai peziarah, makam Raden Saleh justru sepi dari pengunjung ziarah. Letak makamnya tidak jauh dari jalan raya Pahlawan. Tepatnya sekitar 75 meter dari mulut gang sempit yang dinamakan dengan “Gang Makam”. Hampir tidak ada petunjuk yang jelas layaknya pemakaman orang-orang besar pada umumnya di sekitar gang ini akan keberadaan makam, hanya ada penanda arah yang kecil di belakang gapura.

Saat memasuki gang yang relatif sempit ini kami berjumpa dengan anak-anak sekolah yang pulang dari kegiatan belajarnya. Kami bertanya kepada mereka, “Jang (Dik), makamnya Raden Saleh sebelah mana?”. “Lurus terus sebelah kanan” jawab mereka. Benar. Tak jauh dari tempat kami bertemu dan bertanya anak-anak SMP ini kami sampai di Makam Raden Saleh. Di sana kami bertemu dengan “kuncen” alias juru kuncinya. Kami pun melapor kepada juru kunci untuk izin berziarah.

Sekilas Tentang Raden Saleh

Raden Saleh lahir pada tahun 1807 M di Terboyo Semarang dengan nama Raden Saleh Syarif Bustaman. Ayahnya yang bernama Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin yahya merupakan Sayyid (keturunan Nabi Muhammad SAW) bermarga Yahya (Hamid Al-Gadri, 1994). Garis keturunan Sayyid Raden Saleh tidak melalui jalur Hadramaut sebagaimana kebanyakan keturunan Sayyid di Jawa, melainkan dari jalur Surat, India Barat (Peter Carey: xxii). Menurut Carey, selain dari jalur ayahnya yang merupakan Sayyid ini memiliki peran dalam membentuk karakter Raden Saleh. Ia menulis:

Dalam kasus Saleh, keluarga Jawa-Arab-nya, al Alwi, agak unik sebab berasal dari Surat (India Barat), bukan langsung dari Yemen Selatan (Hadramaut) seperti kebanyakan keturunan Arab lain di Jawa. Keluarga Saleh juga mempunyai pertalian darah yang erat dengan keluarga bangsawan di Jawa. Kerabat Saleh, Kiai Tumenggung Danuningrat alias Sayyid Alwi, Bupati Kedu (1813-1825), adalah cicit Sultan Cirebon (eyang putrinya adalah anak sultan). Ibu dan istrinya berasal dari keluarga Danurejan yang didirikan Patih Danurejo I dari Yogyakarta (menjabat 1755-1798). Jadi, lingkup hidup dan budaya keluarga Raden Saleh agak berbeda dengan keluarga Arab-Jawa pada umumnya yang datang ke Nusantara langsung dari Hadramaut. Memang bukan hanya lelaki dari keluarga tersohor al-Alwi yang berjasa, perempuan juga berperan. Istri Suroadimenggolo V, putri bungsu Raden Mas Said (Mangkunegoro I, 1757-1759), terkenal sangat terdidik. Waktu awal perang, sang Raden Ayu rupanya memiliki peran yang menentukan dalam membujuk anak bungsunya (sepupu Raden Saleh), Raden Mas Sukur, untuk bergabung dengan Diponegoro dengan menjadi anggota pasukan Pangeran Serang II di Demak pada akhir Agustus 1825.

Perupa kesohor dengan salah satu karya monumentalnya berupa lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro ini wafat pada hari Jumat tanggal 23 April 1880. Jenazahnya disemayamkan di Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.

Konon, makam ini sempat “hilang” karena tertimbun rumput ilalang yang mengitari areal pemakamannya. Pak Isun Sunarya sebagaimana dilansir dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa Makam Raden Saleh kembali ditemukan untuk pertama kalinya oleh Mas Adoeng Wiraatmadja sekitar tahun 1923. Tepat di depan rumah Mas Adoeng ini dipenuhi oleh rumput ilalang dan pohon besar. Masih menurut penuturannya, Mas Adoeng ini kemudian melihat ada gundukan batu pada saat ia menebang ilalang. Dan ternyata batu tersebut adalah makam Raden Saleh.[1]

Hingga akhirnya pada tahun 1955 komplek pemakaman ini dibangun kembali. Atas perintah Presiden Sukarno, komplek pemakaman ini dipugar. Soekarno menunjuk F. Silaban sebagai arsitek pemugaran komplek Makam Raden Saleh ini. Sebagaimana kita ketahui, F. Silaban merupakan arsitek yang merancang Makam Pahlawan Kalibata dan Masjid Istiqlal, Jakarta. Pemugaran rampung pada September 1953.

Sebagai tanda sejarah bahwa makam ini dibangun oleh Presiden Soekarno, di dinding pembatas dua makam: Makam Raden Saleh dan Isterinya, Ayu Danurejo, tertulis:

Makam Raden Saleh Sjarif Bustaman. Lahir di Semarang kira-kira tahun 1813/1814, wafat di Bogor tanggal 23 April 1880. Dibangun kembali oleh Pemerintah Republik Indonesia tanggal 7 September 1953.

Makam Raden Saleh merupakan cagar budaya dengan SK penetapan SK Menteri NoPM.26/PW.007/MKP/2007. Dibangun di atas tanah wakaf masyarakat atas nama pengelola H. Isun Sunarya.

Beberapa tahun belakangan, haul atas peringatan wafatnya Raden Saleh digelar di setiap tanggal 23 April. Bahkan Habib Luthfi, sebagaimana dituturkan oleh pengasuh PP Al-Ihya Bogor, pernah menyuruh langsung kepadanya untuk ikut meramaikan haul Raden Saleh.[2]   

Makam Abah Falak Pagentongan
Makam Mama Abdullah bin Nuh

[1] https://www.tribunnews.com/regional/2016/01/11/cerita-makam-raden-saleh-ditemukan-tak-sengaja-saat-potong-ilalang?page=all, diakses tanggal 09 Februari 2020

[2] Wawancara dengan KH. Toto, pengasuh PP Al-Ihya’ Bogor dalam program Anjangsana Sunda yang digelar oleh Fakultas Islam Nusantara UNUSIA Jakarta, 13-16 Januari 2020

*) Isi sebagian dari artikel ini pernah diterbitkan di www.alif.id dengan beberapa penambahan

Related posts

Moderasi Beragama: Antara Negara dan Masyarakat Sipil

Dr. Ahmad Suaedy MA. Hum.

Pertanian, Agraria, dan Perubahan Iklim dalam Perspektif Islam Nusantara

Ngatawi El-Zastrow