FIN UNUSIA
Uncategorized

Kebangkitan Kembali Spiritualitas dalam Politik: Confucianisme di China dan Aswaja Nusantara di Indonesia 


Oleh Ahmad Suaedy

Studium General: “Islam dan Confucianisme: Perspektif Hubungan Internasional”

Prodi Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 26 Oktober 2026

Konteks

Salah satu bidang ilmu pengetahuan yang memiliki perhatian besar terhadap kembalinya agama atau spiritualitas  ke ruang publik adalah hubungan internasional 

Hal ini bukan hanya tampak dalam  berbagai fenomena kehidupan dimana agama menunjukkan perannya yang kian menonjol melainkan juga berbagai buku dan hasil riset lainnya

Contohnya adalah perubahan geopolitik mutakhir yang melibatkan koalisi Amerika-Israel dalam penyerangan terhadap Iran karena berpihak pada Palestina. 

Sedangkan Iran mendapat dukungan dari China dan Rusia.

Menurut investigasi The Guardian dan Al Jazeera, motivasi penyerangan AS-Israel bukan semata karena ekonomi dan perdagangan global melainkan merupakan koalisi antara sekte dan sub sekte nasionalis-ekstrim Kristen evangelis di AS dan Zionis di Israel yang mengusung supremacy Amerika & kulit putih-Yahudi

Di lain pihak ada gerakan “NATO ISLAM” oleh negara-negara kuat tertentu di kawasan Teluk, Asia Selatan atau Pakistan dan Turki.

Dengan demikian ada kecenderungan agama menjadi basis bagi pertahanan kawasan atas serangan koalisi agama lain di luarnya bahkan perlombaan senjata.

Karena itu, sebagian besar analisis dan ulasan tentang fenomena tersebut cenderung berspektif negatif dan mengedepankan fenomena yang negatif dimana agama dianggap membahayakan demokrasi, hak asasi manusia dan negara (liberal). 

Namun sesungguhnya ada fenomena lain dimana ada negara-negara yang sedang melakukan konsolidasi atau revitalisasi dimana agama atau spiritualitas  menjadi faktor penting yang bertujuan untuk melindungi diri, revitalisasi tradisi dan membawa pesan kesejahteraan dan perdamaian –soft power diplomacy.

Yang terakhir ini terutama menghadapkan diri dengan hegemoni Barat yang membawa misi sekularisme dan kapitalisme dan didomplengi oleh nasionalis-ekstrim evangelis-zionis dan rasisme: AS-Israel

Contoh dari negara-negara yang sedang melakukan revitalisasi agama dan spiritualitas itu adalah  Confucianisme di China dan Aswaja Nusantara atau Islam Nusantara di Indonesia.

Presentasi ini akan mengkhususkan melihat kedua kasus yang disebut terakhir tersebut.

Pertanyaan 

Bangsa China menganggap Confucianisme bukan agama melainkan  spiritualitas sedangkan Islam Nusantara adalah agama dan spiritualitas.

Bagaimana confucianisme di China dan Islam Aswaja Nusantara di Indonesia masuk ke ruang publik dan bagaimana implikasinya bagi tata kelola pemerintahan dan dinamika masyarakat serta bagaimana pengaruhnya di level global?

Definisi: Confucianism

Confucianisme (akar dari pemikiran Confucius dan murid-murid awalnya), hidup 500 SM.

Confucian, Neo Confucianism (secara khusus pemikiran di era dinasti Song, Yuan dan Ming) dan Confucianisme, New Confucianisme (liberal).

Confucianisme. Suatu upaya untuk mengintegrasikan ajaran confusian ke dalam kehidupan China dan global.

Di era kolonial dan modern awal, abad ke-19 – 20, bersamaan dengan humiliation century: Confucian dianggap bagian dari feodalisme dan tradisi tua/old traditions anti modernisasi & bertentangan dengan misi marxisme-leninisme, karena itu harus dilenyapkan.

Confucianisme, pemikiran era modern yang ingin menghidupkan kembali nilai-nilai lama menjadi tradisi baru modernitas & merevitalisasi praktek Confucius  kekinian = dialektika yang keras.  

Xi Jinping: Dream Of China a.l. socialism with Chinese characteristic: marxism-confucianism

Ada banyak ragam pemikiran dari yang sangat konservatif hingga yang sangat moderat dan kritis.

Definisi: Aswaja Nusantara

Paham Ahlussunnah wal jamaah yang menjadi mayoritas besar di Indonesia

Ciri-ciri: Isnad/muttashil, mazhab, tasawuf & tradisi Islam klasik (William A. Graham, MIT)

Di era kolonial dan modern awal Indonesia, kelompok ini disingkirkan dari mainstream dan inner circle (era kolonial & orde baru) karena dianggap bertentangan dengan modernisme dan modernisasi (humiliation era) 

Graham: paham ini bukan anti modernisasi & konservatisme melainkan memiliki jalannya sendiri dalam perubahan dan menjawab tantangan zaman yang berbeda dg roadmap dari modernisme 

Azra: Aswaja/Islam Nusantara, semua yang bukan syiah. Saya mengartikan Aswaja dengan tiga ciri tersebut. Karena itu tidak semua non Syiah adalah Aswaja Nusantara

Aswaja Turn: Kembalinya sistem berpikir dan praktek sosial yang semula terpinggir ke public sphere & politik: integrasi islam-negara bangsa; kewarganegaraan; insert hukum Islam; global rahmatan lil alamin, dll.

Misi Confucianisme 

Xi Jinping melanjutkan ajaran Deng Xiaoping tentang keterbukaan termasuk terhadap budaya dan spiritualitas & agama: marxisme pasar terbuka/state capitalism..

Setidaknya sejak Kongres ke-19 tahun 2007 PKC telah mengubah konstitusinya dengan memasukkan program atau perspektif kebudayaan. 

Xi Jinping yang berkuasa sejak 2012 terus memperkuat program tersebut: The Chinese Dream of the great rejuvenation of the Chinese nation.

Ajaran klasik Confucius diintegrasikan menjadi spirit atau etos sosial dalam tradisi dan perilaku modern: 

  • Meritokrasi (meritokrasi sebagai pengganti demokrasi)
  • Anti korupsi 
  • Inovasi teknologi 
  • kontrol terhadap model bisnis teknologi informasi yang kapitalistik
  • pembatasan kekayaan

Via kurikulum sekolah dan mobilisasi masyarakat serta kebijakan. Semua itu ditegakkan secara konsisten dan keras.

Pemerintah China juga memfasilitasi dan membangun dakwah internasional Confucianisme disamping bertujuan di atas juga yang lebih penting adalah membangun  soft power global diplomacy.

Dalam hubungan internasional, berbeda dengan Amerika khususnya Trump yang selalu menawarkan slogan kebebasan (liberal, liberalism), China khusunya Xi mengusung harmoni & perdamaian. 

Yang terakhir ini adalah pesan yang sangat kuat dari ajaran confucius

Misi Aswaja Nusantara/Nahdlatul Ulama 

Sejak Reformasi 1998  kelompok ini memiliki peluang untuk melakukan mobilitas sosial melalui berbagai institusi politik dan sosial namun masih bersaing dengan hegemon lama, yaitu orang dan kelompok yang diperkaya oleh kolonial dan Orde Baru karena menerima modernisasi yang menjadi misi kolonial. 

Jadi mereka belum pulih hingga sekarang jika ukurannya adalah peran di era Kesultanan sebagai bagian dari circle kekuasaan.

Namun, berbeda dengan di China yang mengikuti sistem komunis, seluruh institusi sosial berada di bawah kontrol PKC & negara termasuk dakwah dan pembiayaannya.

Aswaja Nusantara di Indonesia hidup di bawah demokrasi liberal. Mereka  harus bekerja sendiri, bekerja sama dan saling menghormati dengan pihak lain dan pemerintah, bukan intervensi langsung.

Namun dalam hal-hal tertentu mereka bisa mendominasi dan menanamkan nilai-nilai sebagai etos sosial modern


Aswaja Nusantara mengembangkan etos sosial yang sebagian diserap ke dalam visi dan kebijakan pemerintah dan Islam internasional:

  • Integrasi Islam-nation state; kewarganegaraan; Pancasila & eksistensi negara RI sebagai bagian dari Syar’i
  • Ushul Al Khamsah: hifdzu ad-Din (menjaga agama); hifdzun nafs (menjaga jiwa); hifdzu ‘aql (menjaga akal); hifdzu Nasl (menjaga keturunan); hifdzu al-mal (menjaga harta).

Pasca kembali khittah 26 NU mengembangkan visi lebih tajam & konkret mengenai kemanusiaan, seperti:

  • Tawassuth (obyektif); Tawazun (berimbang); dan I’tidal (keadilan)

4 Indikator Utama Moderasi Beragama

  • Komitmen Kebangsaan
  • Toleransi (Tasamuh)
  • Anti Kekerasan
  • Akomodatif terhadap Budaya Lokal

Rahmatan lil ‘alamin:

  • Trilogi ukhuwah: ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, ukhuwah basyariyah → Zayed Award for Human Fraternity (2024)

Kesimpulan

  • Ada proses penyerapan nilai-nilai keagamaan dan spiritual yang semakin  intens ke dalam ruang dan kebijakan publik baik di China terhadap mayoritas Confucianisme di negara komunis maupun melalui proses demokrasi di Indonesia terhadap nilai-nilai Aswaja: Al Muhafadzatu ‘ala al qadimi ash shalih wal akhdzu bi al jadidi al ashlah
  • Namun ada perbedaan prioritas jenis etos sosial yang diserap:
  • Di China nilai-nilai sosial lebih mengedepankan pada etos kemodernan seperti inovasi, meritokrasi, kesejahteraan & kesetaraan ekonomi meskipun harmoni tidak ditinggalkan.
  • Sedangkan Aswaja Nusantara di Indonesia lebih pada nilai-nilai toleransi, harmoni dan hak-hak politik, kurang pada keadilan ekonomi dan etos kemodernan seperti inovasi, meritokrasi.

Rekomendasi 

Kerjasama yang intensif antara dua bangsa dan negara ini perlu dibangun guna mengimbangi kecenderungan perubahan geopolitik global yang didominasi oleh perang, kekerasan dan perlombaan senjata

Nilai-nilai Asia yang berorientasi pada harmoni, kesetaraan-keadilan dan non eksploitatif mungkin bisa dibangun dari dua sumber spiritual dan agama tersebut guna terbangunnya keseimbangan global north – global south  

Related posts

Respons Agama terhadap Perubahan Masyarakat di Era Disrupsi dan Post-Truth: Merencanakan Jawaban Masa Depan Indonesia

Dr. Ahmad Suaedy MA. Hum.

Hello world!

admin

ILMU PELAYARAN DALAM NASKAH BUGIS

Ngatawi El-Zastrow