FIN UNUSIA
Laporan

DI RUMAH PANCASILA SAYAP GARUDA MELINDUNGI RAKYAT JELATA

Tanggal 23 sd 26 Agustus saya diajak BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) melakukan anjangsana ke keberapa daerah di Jawa Tengah untuk mengunjungi beberapa komunitas yang telah melakukan berbagai praktek pengamalan Pancasila. Membersamai kami dalam anjangsana ini, Wakil Kepala BPIP, Prof. Hayono, Deputi Pengkajian dan Materi yang sekaligus menjadi Plt. Deputi Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi dan Jaringan; Prof. FX. Adji Samekto, Stafsus Ketua Dewan Pengarah; Iman Partogi hasiholan dan Dr. Lia Kian, Direktur Pembudayaan Pancasila; Irene Camelyn Sinaga, serta ketua Aliansi Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI); Nia Syarifudin.

Hari perama kami melakukan anjangsana dengan komunitas yang aktif dalam gerakan lintas iman, lintas budaya, di antaranya Komunitas Rumah Pancaasila, FKUB,  Rumah Bhinneka Solo, dan sebagainya. Di gedung pertemuan Bakesbangpol Jawa Tengah ini kami melakukan sharing informasi dan tukar pengalaman  dalam menjalankan praktik hidup berpancasila. Pada session ini saya benar-benar melihat Pancasila sebagai sesuatu hidup hidup dan nyata, bukan sekedar deretan huruf dan kata-kata atau sekadar mantra. Tak ada sekat yang memisahkan di antara mereka. Perbedaan yang ada bukan untuk saling menegasikan dan memisahkan, tetapi justru menjadi keindahan dan kekuatan.

*) Dok Pribadi

Seperti dikisahkan Ibu Maria, salah seorang aktivis Kebhinekaan dari Solo, yang melakukan gerakan merawat persatuan dengan membuat gerakan sederhana, mengajak menyanyi dan menari bersama. Bermula dari 9 orang kemudian menyebar ke lingkungan sekitar sampai akhirnya menjadi gerakan kebudayaan yang bisa menyatukan banyak orang dengan berbagai perbedaan latar belakang. Demikian juga Pak Taslim, penggerak FKUB yang ada di Semarang yang menggerakkan para tokoh lintas iman untuk bersilaturrahim dan berbagi bantuan kepada sesama di beberapa kota di Jawa Tengah. Dia menjelaskan bagaimana para tokoh lintas agama dan iman ini selalu keliling ke beberapa daerah untuk memberikan bantuan sekaligus berdialog, menyambung persaudaraan baik dengan sesama tokoh maupun dengan masyarakat.

Ada juga anak muda dari solo yang aktif menggerakkan para pemuda untuk bergerak menebarkan perdamaimaian dan semangat persatuan dalam keberagaman. Bersama dengan teman-teman lintas iman dan budaya dia membuat aktivitas pelatihan media sosial, berkesenian dan sejenisnya yang mempertautkan semangat persaudaraan anak-anak muda. Selain itu ada juga para mahasiswa yang memberikan komentar dan pikirannya menanggapi realias kehidupan berpancasila.

Setelah itu, kami mengunjungi Rumah Pancasila yang ada di kawasan Tawangmas, Semarang Barat. Lembaga ini didirikan oleh seorang pengacara yang sekaligus juga aktivis kemanusian Yosef Parera. Di sini kami merasa Pancasila menjadi semakin nyata, karena bisa melihat langsung kegiatan pengamalan Pancasila dalam berbagai praktik kehidupan. Mulai berkesenian, pendidikan, dialog dan diskusi, sampai memberikan bantuan langsung pada masyarakat yang menghadapi berbagai kesulitas; mulai yang terkena kasus hukum sampai kesulitan  ekonomi.

Kami datang disambut dengan grup musik yang menyanyikan  lagu-lagu yang sarat dengan pesan Pancasila. “Melalui lagu-lagu ini kami menyampaikan pesan mengenai nilai-nilai Pancasila” jelas Yosef kepada kami. Dia juga sempat menjelaskan beberapa makna syair dari lagu yang dinyanyikan. “Saya biasa memberikan orasi di sela-sela lagu untuk menegaskan makna dan isi lagu supaya pesan yang ada lebih mudah dipahami dan diterima” lanjut Yosef.

Rumah Pancasila ini tidak hanya tempat berkumpul para tokoh, mahasiswa, akademisi atau aktivis, tapi siapa saja, bahkan rakyat jelata sekalipun,  bisa masuk ke Rumah Pancasila secara bebas dan nyaman. Saat pertama memasuki rumah hati dan perasaan saya sudah bergetar merasakan bagaimana nyaman dan damainya rumah itu. Suasana guyub, rukun, penuh kasih dan perhatian terasakan kuat menyentuh hati kami. Kami melihat wujud Pancasila menjadi semakin nyata katika mas Yosef menunjukkan beberapa gambar video kegiatan Rumah Pancasila

Waktu menunjukkan beberapa kegiatan diskusi dengan mahasiswa dan para aktivis yang disiarkan secara live aku masih merasa itu biasa-biasa saja. Demikian juga saat ditunjukkan beberapa kegiatan kampanye perdamaian dan kebangsaan melakui pagelaran musik dan orasi, saya merasa masih biasa-biasa saja karena hal itu juga sering saya lakukan. Tetapi ketika ditunjukkan kegiatan saat Rumah Pancasila memberikan bantuan hukum dan advokasi kepada kaum rentan yang selama ini dipinggirkan dan harus menjalani hukuman karena ketidak berdayaan mereka, saya mulai tersentuh.

Yang lebih menyentuh, advokasi tidak diberikan hanya dalam bentuk yuridis (proses hukum) tetapi juga pendampingan dan bantuan terkait ekonomi keluarga. Dalam konteks ini, Rumah Pancasila memberikan bantuan materi pada keluarga yang terkena kasus hukum. Hal ini tidak hanya dilakukan di Semarang, tapi sampai ke daerah lain seperti Jawa Barat dan tempat-tempat lain di Indonesia. Seperti yang dilakukan terhadap seseorang di Ambon yang terkena kasus hukum saat bekerja untuk membelikan sepeda motor anaknya agar bisa sekolah, karena tempat tinggalnya yang jauh di pedalaman. Atas kasus ini, Rumah Pancasila datang ke Ambon memberikan bantuan dengan membelikan sepeda motor untuk sang anak agar bisa sekolah.

Kepakan “sayap Pancasila” semakin terlihat nyata melindungi rakyat jelata ketika Yosef menunjukkan gambar-gambat Rumah Pancasila melakukan kegiatan membangun rumah orang-orang miskin yang kumuh dan kotor, mengunjungi rumah-rumah jompo untuk mengajak mereka ngobrol mengusir kesepian di hari tua, sehingga mereka bisa merasa bahagia. Tak hanya itu, Rumah Pancasila juga datang ke lembaga pemasyarakatan (LP) untuk memberikan bantuan kepada warga binaan dengan membelikan alat destilasi air agar mereka bisa minum air yang bersih dan sehat. “Saat saya berkunjung ke LP Kedungpane, Semarang, saya mendapat ceritera banyak warga binaan yag sering sakit perut karena minum air sumur. Ini terpaksa dilakukan karena mereka tidak mampu membeli air kemasan yang bersih. Atas kejadian ini kemudian kami izin kepada petugas lapas untuk membelikan mesin destilasi air. Puji syukur, sekarang mereka sudah bisa minum air bersih” demikian Yosef memberikan penjelasan pada kami.

Tak hanya itu, Rumah Pancasila juga aktif memberikan binaan kepada masyarakat yang tianggal di kolong jembatan dan kolong langit (komplek rumah kumuh). Memberikan beasiswa pada anak-anak yang putus sekolah, memberikan pengajian dan pendidikan tambahan pada anak-anak mereka dengan melibatkan relawan dari mahasiswa. Semua dilakukan dengan penuh suka cita, tanpa membedakan agama dan latar belakang sosial.

Menariknya, rumah Pancasila tidak hanya turun ke bawah, tetapi juga bergerak vertikal memberikan masukan kepada pembuat kebijakan yang ada di Semarang dan Jawa Tengah. Mereka menyerap aspirasi, menampung keluhan dan keinginan masyarakat, merumuskan dan kemudian menyampaikan kepada pembuat kebijakan; DPRD maupun Wali Kota dan Gubernur. Dengan demikian Rumah Pancasila benar-benar menjadi jembatan penghubung antara rakyat dan pemerintah.

Semua kegiatan ini dilakukan dengan dana gorong royong, hanya mengandalkan kepedulian dan sumbangan dari sesama warga bangsa. “Kami Tak pernah bikin proposal minta bantuan ke pemerintah, tapi kami menerima kalau ada bantuan dari pemetintah” kata Yosef menegaskan. “Banyak prosedur dan aturan formal yang harus dilalui kalau mengandalkan bantuan pemerintah, maka kami tidak terlalu berharap banya pada pemerintah. Kami tidak ingin membebani pemerintah, tapi ini bukan berarti mengabaikan pemerintah. Mungkin pemerintah terlaku sibuk dan banyak yang diurus sehingga belum bisa menjangkau mereka yang ada di bawah. Daripada kita sibuk menghujat dan pemerintah, lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk rakyat” Demikian Yosef memberikan penjelasan pada kami. “Pancasila itu sederhana, jika kita berbuat baik pada sesama sudah pasti itu Pancasila” Tegasya lebih lanjut.   

Satu hal hal membuat saya benar-benar surprise dan terharu, sehingga membuat kami menitikkan air mata adalah kehadiran saudara-saudara kami eks-teroris. Menurut pengakuan mereka, mereka merasa nyaman dan diperhatikan saat berada di rumah Pancasila. Bagi saya ini suatu capaian yang luar biasa. Seorang mantan teoris bisa merasa nyaman berada dalam komunitas yang dipimpin oleh seorang non muslim. Bahkan mereka percaya pada komunitas tersebut sebagai partner untuk melakukan kegiatan sosial membina warga eks-teroris. Hari itu kami tidak hanya melihat Pancasila itu ada dan nyata, tapi juga benar-benar belajar mengepakkan sayap Pancasila melampaui perbedaan, tanpa harus menghilangkan perbedaan itu sendiri.**** (Bersambung)

Related posts

NILAI PANCASILA DI RELIEF CANDI BOROBUDUR

Ngatawi El-Zastrow

SENI TRADISI SEBAGAI BENTENG IDEOLOGI

Ngatawi El-Zastrow

BAHAGIA DALAM PERBEDAAN: Kearifan Beragama Masyarakat Buntu, Wonosobo

Ngatawi El-Zastrow