Aswaja-NU dalam Sejarah Indonesia: Menulis Sejarah Dari Pinggiran:
Oleh: Dr. Ahmad Suaedy, MA. Hum
ASWAJA
- Ahlussunnah wal jamaah adalah paham Islam yang pertama masuk Nusantara kemudian menjadi mayoritas dan menjadi inner circle kekuasaan di Nusantara (Kesultanan) – komprehensif
- Ciri-ciri: Isnad/muttashil, mazhab, tasawuf & tradisi Islam klasik (William A. Graham, MIT)
- Di abad ke-19 lahir apa yang disebut Islam modern yang didukung oleh kolonial
- Kelompok Aswaja ini disingkirkan dari mainstream dan inner circle (era kolonial & orde baru) karena dianggap bertentangan dengan modernisme dan modernisasi
- Graham: paham ini bukan anti modernisasi & konservatisme melainkan memiliki jalannya sendiri dalam perubahan dan menjawab tantangan zaman yang berbeda dg roadmap modernisme.
- Azra: Aswaja/Islam Nusantara, semua yang bukan syiah.
- Dalam buku ini, Aswaja dengan tiga ciri tersebut. Karena itu tidak semua non Syiah adalah Aswaja
- Inilah yang kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama
- Aswaja Turn: Kembalinya sistem berpikir dan praktek sosial yang semula terpinggir ke public sphere & politik: integrasi islam-negara bangsa; kewarganegaraan; insert hukum Islam; global rahmatan lil ‘alamin
- Historiografi Indonesia
- Namun dalam historiografi Indonesia NU adalah pinggiran karena ketersingkiran historis: kritik terhadap modernisasi
- Penulisan sejarah modern Indonesia bias modernisasi sehingga cenderung reduktif terhadap realitas dan partisipasi masyarakat grassroots
- Misalnya, perintis kemerdekaan → mereka yang mendirikan organisasi modern & persatuan bukan mereka yang pertama melakukan perlawanan terhadap kolonial
- Buku ini hendak membangun historiografi perspektif pinggiran: Aswaja yang kemudian menjadi Nahdlatul Ulama
- Tiga Momentum Penyingkiran
Sekularisasi & Penindasan PHB → Perlawanan Diponegoro didukung kyai & tarekat: - Politik Etis: – penghapusan basis keilmuan dan pengetahuan serta wisdom nusantara oleh modernisasi – liberalisme
- Kemerdekaan: Penulisan sejarah kemerdekaan yang bias.
- Gagasan Kemerdekaan dari Hijaz
- Kemerdekaan berawal dari perlawanan terhadap kolonial (anti penindasan, anti sekularisasi, anti kebudayaan liberal) bukan dari persatuan
- Gagasan gerakan kemerdekaan dimulai dari Haramain atau Hijaz bukan dari Batavia → kemudian ke Surabaya (Tashwirul Afkar, Nahdlatut Tujjar dan Nahdlatul Wathin)
- Nahdlatul Ulama → rangkaian dari gerakan tersebut
- NU yang pertama kali mengklaim wilayah teritorial yang kemudian menjadi wilayah Indonesia: wilayah Hindia Belanda sebagai Darul Islam (1936 di B Banjarmasin) – di BPUPKI – PPKI 1945 Soekarno & Hatta masih berdebat
- Begitu juga sinkronisasi nation-state berbasis Pancasila dengan ideologi politik Islam (khittah NU 26)

