FIN UNUSIA
Uncategorized

Kosmopolitanisme Islam Nusantara: Suatu Kritik Historiografis

Islam Nusantara telah menjadi wacana publik. Setidaknya dalam satu dekade terakhir, Islam Nusantara dipahami sebagai aspirasi dan ekspresi keagamaan moderat yang dikontraskan dengan aspirasi dan ekspresi keagamaan yang lebih radikal. Yang terakhir ini biasanya mengacu pada aspirasi dan ekspresi keagamaan yang datang belakangan dari Timur Tengah—Wahabi dan salafi.
Meski untuk kepentingan politis tertentu berguna, jelas sekali pemahaman tentang Islam
Nusantara tersebut sangat dikotomis dan karenanya reduksionis. Memposisikan seolah-olah Islam Nusantara adalah oposisi dari Islam Timur Tengah mengaburkan sejarah panjang perjumpaan intelektual di antara kedua kawasan itu. Cukup pasti Islam di Timur Tengah sendiri, sebagaimana Islam di Nusantara, sangat beragam, bukan hanya Wahabi dan salafi yang berkembang belakangan.
Dikotomi dan reduksi pemahaman tentang Islam Nusantara memang tidak terhindarkan di
tengah hiruk pikuk “war on terror”. Terutama sejak 2001, pembicaraan tentang Islam, termasuk di kalangan sejarawan, terpaku pada isu keamanan. Di antara akibatnya, wacana tentang Islam yang sangat kaya direduksi menjadi sekadar pertarungan antara Islam moderat versus Islam radikal.
Pemahaman yang dikotomis tersebut membutuhkan kritik historiografis. Sejarah Islam di
Nusantara yang sangat kaya, tidak terkecuali hubungan-hubungannya dengan Timur Tengah di segala bidang, adalah narasi terlupakan yang mesti diperkenalkan kembali kepada publik kita. Termasuk dalam hal ini adalah dinamika kota-kota bandar dan pelabuhan di masa lalu yang menjadi tempat pertemuan dan pengangkutan tidak hanya komoditas dagang, tetapi juga para intelektual dan kaum spiritualis lainnya. Di sanalah terbangun suatu “kosmopolitanisme” Islam Nusantara di tengah masyarakat yang terbuka.
Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta, dengan dukungan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hendak mengelaborasi problematik tersebut. Melalui salah satunya kegiatan kuliah publik, kami mau menggali dimensi kosmopolitanisme Islam Nusantara yang terkubur dalam sejarah. Tentu saja usaha ini membutuhkan prasyarat metodologis yang matang, termasuk kritik terhadap historiografi yang dikotomis dan reduksionis. Kami ingin publik mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif terutama mengenai jejaring intelektual dan spiritual Islam di balik jalur-jalur perdagangan masa lalu yang dipopulerkan dengan istilah “jalur rempah” itu. Kami berkeyakinan usaha ini adalah langkah awal bagi terbentuknya masyarakat Indonesia yang lebih saling mengakui dan menghargai satu sama lain, suatu cita-cita kosmopolit yang sekarang kiranya ditantang
oleh kecenderungan pemahaman tentang realitas yang sempit.
Tujuan
1. Menyebarluaskan pemikiran dan penelitian para ahli sesuai tema yang dipaparkan
2. Menguatkan riset-riset jalur rempah yang tengah dilakukan oleh para peneliti
Pelaksanaan
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:

Hari : Senin
Tanggal : 23 Agustus 2021
Pukul : 14.00 WIB s.d selesai
Platform : Zoom (link menyusul)

Link pendaftaran: https://bit.ly/lecture3-FINUNUSIA

Related posts

Jelajah Pustaka Nusantara (1): Risiko Profesi dalam Serat Jayengboyo

Ngatawi El-Zastrow

Model Penelitian Hukum Islam

M. Ishom El-Saha

Menelusuri Jejak Spiritual dan Intelektual Islam di Jalur Rempah Pantai Barat Sumatera

admin