FIN UNUSIA
Laporan

NILAI PANCASILA DI RELIEF CANDI BOROBUDUR

Tak banyak orang mengerti bahwa relief yang ada di Candi Borobudur sebenarnya sarat dengan makna. Dia bukanlah sekedar ornamen estetik untuk mempercantik penampilan candi, tetapi merupakan cerminan dari suatu falsafah dan ajaran kehidupan. Ada berbagai falsafah kehidupan yang terkait dengan dengan aspek spiritual, religius maupun sosial material, termasuk nilai-nilai Pancasila di balik pahatan indah yang ada di dinding candi Borobudur.

Bambang Eka Prasetya (BEP), seorang penggiat seni dari Magelang, menjelaskan kandungan nilai-nilai Pancasila yang ada di relief Borobudur di hadapan tim BPIP yang melakukan anjangsana Pancasila ke Borobudur. Disebutkan Bambang, ada lima jenis kisah di relief candi Borobudur yaitu Karmawibhangga menceritakan tentang hukum karma yang ada di dunia. Relief ini mengisahkan manusia yang melakukan kejahatan di masa sekarang akan mendapatkan balasan yang sama jahatnya di kehidupan selanjutnya. Demikian sebaliknya. Kedua, Lalitavistara menceritakan tentang kisah hidup Sidharta Gautama sang Buddha,  dari  dia lahir hingga menjadi Buddha dan ketika sedang meditasi di bawah pohon Bodhi dan mengajarkan ajarannya yang pertama di Taman Kijang.

Ketiga Jataka, mengisahkan tentang reinkarnasi sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai seorang manusia. Kisah ini menggambarkan penjelmaan sang Buddha menjadi binatang yang berbudi luhur dengan segala pengorbanannya. Di antaranya kisah kera dan banteng. Keempat, Avadana, relief ini berkisah tentang penjelmaan orang-orang suci, di antaranya ada kisah kesetiaan raja Sipi terhadap makhluk yang lemah. Makna dari cerita tersebut adalah, bahwa seorang pemimpin harus berani mengorbankan dirinya untuk kepentingan rakyat kecil dan semua makhluk. Kelima, Gandavyuha-bhadracari. berkisah tentang esoteris agama Buddha Mahayana mengenai anak muda bernama Sudhana yang berkelana mencari pengetahuan dan kebijaksanaan tertinggi. Dia melakukan perjalanan religi keliling India untuk menemui guru-guru atau para sahabat spiritual.

“Saya tidak akan membabar semuanya, tapi akan menjelaskan yang terkait dengan Pancasila yaitu ada di bagian Jataka” Demikian BEP menuturkan sambil memperagakan wayang yang ada di kedua tangannya. Selanjutnya dia menjelaskan bahwa nilai-nilai Pancasila tu ada di kitab Sotasoma bab 145, sedangkan di bab 139 Sotasoma bicara soal Bhinneka Tunggal Ika. “Meskipun demikian, ajaran-ajaran itu juga ada di Al-Qur’an, karena ini nilai-nilai baik” Katanya lebih lanjut.

“Tersebutlah seorang raja angkara bernama Kalmasapada. Dia raja yang lalim, merusak tatanan norma dan nilai kehidupan demi nafsu kekuasaan” demikian BEP memulai ceritera dengan memainkan wayang. Untuk memenuhi ambisinya Raja Kalmasapada harus menyandera 100 orang raja. Saat itu dia sudah berhasil menyandera 99 raja, tinggal 1 raja lagi dia akan bisa memenuhi ambisinya. Untuk itu dia berusaha menyandra Pangeran Rembulan, anak Sotasoma yang juga dkenal dengan sebutan Pangeran Sotasoma. Untuk bisa menyandera Pangeran Rembulan Raja Kalmasapada datang ke pertapaan Sotasoma. Sesampai di pintu pertapaan, Sotasoma memanggil nama   Kalmasapada. Ketika disebut namanya, seketika sang raja lalim itu luluh, hilang semua kesaktiannya.

Pada saat itu juga, sang Sotasoma langsung memberi wejangan pada Raja Kalmasapada. Untuk bisa menjadi raja yang memiliki kekuasaan besar, seseorang harus bisa menaklukkan ego, melepas diri dari semua nafsu. Untuk itu seseorang harus  menjalani lima pantangan: pertama, Jangan membunuh makhluk hidup; kedua, jangan mengambil barang milik orang lain tanpa izin (mencuri); ketiga, jangan menyalahgunakan nafsu (bermain peremouan dan sejenisnya); keempat, jangan berbohong, selalu berkata jujur; kelima, jangan makan dan minum yang memabukkan. Jika raja Kalamasapada bisa menjaga diri untuk tidak melakukan kelima pantangan tersebut maka akan bisa membangun kembali kerajaanya dan menjadi penguasa yang kuat. Wejangan Sitasoma pada Kalmasapada inilah yang kemudian dikenal dengan Pancasila. Relief Jataka yang ada di Candi Borobudur ini menjadi inspirasi BEP untuk membuat wayang Jataka. “Kami menggunakan wayang Jataka ini sebagai sarana menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda” demikian BEP menjelaskan kepada kami.

Wayang Jataka ini sering dimainkan oleh Ki Eko Sunyoto, dalang muda berbakat dari Magelang. Sebagai seniman yang hidup dalam lingkungan masyarakat santri, Eko menggali berbagai tradisi religius untuk dielaborasi dengan nilai-nilai kebajikan yang ada di wayang Jataaka. Misalnya puji-pujian, shalawatan, syyiran dan sebagainya yang biasa dilakukan kalangan santri. Semua itu dimaknai dan ditafsirkan oleh Eko kemudian dibabar saat mendalang. Dengan demikian nilai-nilai itu dapat diaktualisasi dan disampaikan kepada generasi muda.

Anjangsana Pancasila BPIP hari ke dua yang diselenggarakan di Kampung Dolanan Ki Sodong, Borobudur yang pimpin Abbet Nugroho ini dihadiri oleh beberapa seniman pemimin sanggar seni.  Diantara yang hadir adalah senimaan senior pendiri Warung Info Jagat Cleguk (WIJC),  mbah Coro.  Dia adalah inisiator dan penggerak ritual ruwat  rawat Borobudur sejak tahun 2003 hingga sekarang.  Ritual ini dimaksudkan sebagai upaya membersihkan Borobudur dari berbagai bentuk polusi yang mengotori Candi, mulai posusi sampah fisik sampai sampah budaya. “Candi Borobudur merupakan simbol yang mengintegrasikan dan merefleksikan gagasan filosofis, ajaran agama, motif-motif artistik, arkeologi dan elemen-elemen kultural dan tehnologi. Dengan demikian Borobudur tidak bisa dipandang hanya sebagai benda mati yang tak mampu berbuat apa-apa. Sebaliknya dia adalah  magnet yang mamu menggerakkan setiap sendi kehidupan masyarakat” Demikian penjelasan mbah Coro pada kami.

Selain itu, ritual “Ruwat Rawat Candi Borobudur” ini juga dimaksudkan untuk memaksimalkan budaya lokal yang yang berada di sekitar candi Borobudur. “Potensi kesenian rakyat di sini sangat besar, tapi kita jarang dilibatkan dalam event-event besar di Borobudur. Jika ada event internasional atau nasional sering didrop dari jakarta, baik pengisi acara maupun crewnya. Para seniaman rakyat jarang dilibatkan, bahkan jadi penontonpun tidak bisa karena terlalu mahal harganya sehingga menjadi jauh dari kami. Oleh karena itu, kami harus menciptakan event sendiri agar kami bisa mengekspresikan kreatifitas” Tutur  Mbah Coro mengungkapakan alasan menyelenggarakan ritual tersebut..

Acara Ruwat Rawat Borobudur ini melibatkan seniman yang ada di Borobudur dan sekitarnya, bahkan sampai di wilayah Jateng dan DIY.  Dalam event ini berbagai kelompok kesenian dari Jawa Tengah dan Yogyakarta berlomba menunjukkan kreasinya, mulai seni tari, seni suara, seni rupa, seni pertunjukan, semua diberi kesempatan untuk tampil.  Yang menarik, kelompok-kelompok kesenian tersebutat hadir atas inisiatif sendiri dengan imbalan ala kadarnya. Mereka datang dengan alat transportasi sedanya,; pick up bak terbuka, truk dan minibus. Beberapa diantaranya membawa bekal makanan dari rumah. Pada pucak acara dilantuntakan Kidung Karmawibangga sebagai pertunjukan utama. Hanya pada saat ritual Ruwat Rawat inilah seluruh masyarakat bisa masuk ke dalam area wisata Borobudur secara gratis. Setelah selesai tari-tarian ritual, seluruh masyaraka diajak jalan mengelilingi candi Borobudur.   

Nilai-nilai gotong royong dan seagat persatuan terlihat jelas ritual ini. Semua masyarakat berkumpul untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama tanpa memperhatikan perbedaan agama, status sosial dan etnis. Semua lebur dalam kegembiraan dan kebahagiaan dalam ritual yang sarat dengan nuansa spiritual dan sosial ini.

Suasana anjangsana makin asyik dan gayeng ketika para pelaku seni menceritakan pengalaman masing-masing dalam merawat dan menjaga nilai-nilai luhur Pancasila melalui jalan seni. Makin mendalami kami makin larut dengan kisah-kisah mereka yang kaya makna. (bersambung).****           

Related posts

MANTAN TERORIS NYAMAN DI RUMAH PANCASILA

Ngatawi El-Zastrow

BAHAGIA DALAM PERBEDAAN: Kearifan Beragama Masyarakat Buntu, Wonosobo

Ngatawi El-Zastrow

SENI TRADISI SEBAGAI BENTENG IDEOLOGI

Ngatawi El-Zastrow