FIN UNUSIA
Uncategorized

Jalur Rempah dan Pembentukan Budaya Vernakular Muslim Nusantara*

Prof. Dr. Michael Feener**

Ketika saya menerima undangan seminar untuk membahas topik ini, saya langsung tertarik melihat judulnya dan bagaimana seminar ini justru membahas konsep dan kerangka kerja analitis Jalur Rempah dan Islam Nusantara. Bagi saya, pikiran pertama yang muncul ketika menyebutkan spice routes – jalur rempah – adalah gambaran sirkulasi kompleks kegiatan perdagangan dan budaya antar kawasan di berbagai belahan Asia: dari Cina di timur hingga Arabia di barat. Setidaknya, inilah apa yang tampak bagi saya sebagai seorang peneliti yang fokus pada tradisi intelektual dan budaya Islam abad pertengahan; khususnya terhadap pulau-pulau di perbatasan timur dunia. Namun baru-baru ini, berkaitan dengan survei yang saat ini sedang berjalan, Maritime Asia Heritage Survey (Survei Warisan Budaya Maritim Asia)[1] dan rencana untuk memulai pendokumentasian situs sejarah di Maluku, saya terus terang terkejut menemukan bahwa sebagian besar diskusi tentang Jalur Rempah di antara para sarjana dan tokoh budaya Indonesia yang ada saat ini masih terpaku pada intervensi Eropa modern awal dari pada sirkulasi interAsia yang telah ada sebelumnya. Jika ini benar adanya, hal ini menurut saya cukup aneh mengingat sejarah perdagangan aromatik dari dan melalui nusantara telah ada jauh sebelumnya, serta mempertimbangkan keadaan global dalam bidang Studi Samudra Hindia.

Dalam kesempatan ini, saya ingin mencoba membuka beberapa pandangan yang lebih luas dan perspektif sejarah yang jauh lebih mendalam agar memungkinkan kita untuk lebih menghargai cara-cara kompleks di mana perdagangan di sepanjang jalur rempah Maritim Asia memfasilitasi pengembangan ragam ekspresi budaya Islam di Nusantara.

Islam Nusantara – dalam arti bentuk khas ekspresi budaya Muslim yang ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia – sebenarnya terbentuk dan berkembang melalui jalur-jalur rempah (penting untuk disebutkan dalam bentuk jamak). Di sini saya berbicara tentang ‘rempah’ dalam istilah yang lebih luas, mencakup berbagai aromatik termasuk kapur barus, kayu cendana, gaharu, dan sebagainya, serta lada, cengkeh, pala, dan bunga pala. Perdagangan rempah yang menguntungkan inilah yang tampaknya menjadi daya tarik utama pedagang dan pelaut Muslim berlayar ke banyak bagian kepulauan Indonesia.

Sejarah perdagangan antar pelabuhan-pelabuhan di “wilayah Teluk” (the Gulf) dan kawasan Samudera Hindia yang lebih luas ini sebenarnya sudah ada sebelum munculnya Islam – dan pelaut Asia Tenggara merupakan bagian integral dari pembentukan jaringan transregional ini. Sebagaimana O.W. Wolters mencatat mengenai perkembangan pada awal abad keempat: “Perhaps trans-Asian maritime trade began to be a permanent and important feature of Asian trade only with the intervention of the Indonesians.”[2] (Mungkin perdagangan maritim trans-Asia mulai menjadi fitur permanen dan penting dalam perdagangan Asia berkat proses dan upaya orang Indonesia”). Di masa Nabi, kota-kota pesisir Teluk dan pelabuhan Samudera Hindia yaitu Oman dan Hadramaut (yang juga merupakan sumber aromatik berharga, terutama kemenyan) berada di bawah kendali Sasanid Persia. Selama abad-abad berikutnya, kronik pengadilan Cina mencatat adanya peningkatan frekuensi laporan misi perdagangan upeti dengan utusan yang mempunyai nama-nama Muslim yang cukup jelas yang datang dari berbagai pelabuhan di sepanjang pantai Asia Bagian Selatan dari Vietnam, Kalimantan, Semenanjung Malaya, dan Sumatera dimana sumber-sumber catatan Cina mencirikan mereka sebagai delegasi dari Sriwijaya sebagai Po-ssŭ atau ‘Persia.’[3] Meningkatnya keterlibatan Muslim dalam jaringan antara Asia Timur dan Tenggara ini bertepatan dengan periode perluasan perdagangan di Samudra Hindia.

Selama periode Dinasti Tang dan puncak kekhalifahan Abassid, Islam diperkenalkan ke kota-kota pelabuhan pesisir Cina dan barang-barang Cina menjadi komoditas yang semakin menonjol dalam perekonomian pasar Timur Tengah melalui Siraf.[4] Baik bentuk budaya material maupun gagasan yang lebih abstrak dari kedua ujung jalur rempah lintas regional semakin diadopsi dan diadaptasi oleh masyarakat lokal di seluruh pulau Asia Tenggara. Proses islamisasi Asia Tenggara difasilitasi oleh tingginya aktivitas di sepanjang jalur perdagangan yang menghubungkan antara pelabuhan Teluk Persia, Laut Merah, dan Pesisir Swahili dengan pelabuhan di Asia Selatan dan Timur melalui Kepulauan Indonesia.[5] Empat abad kemudian, kita dapat menemukan semakin pentingnya perbatasan Asia Tenggara dari dunia Muslim yang berkembang dengan munculnya istilah baru dalam bahasa Arab: ‘Jāwa’, yang kemudian digunakan sebagai toponim untuk Nusantara, secara umum – dan bukan hanya pulau jawa.[6]

Ketika dilihat dengan lebih cermat, misalnya, dalam keragaman bentuk batu nisan Muslim awal. Dalam beberapa kasus, kita dapat melacak masuknya objek fisik dari luar wilayah. Contoh awal yang penting termasuk batu nisan Muslim yang diimpor dari pelabuhan Cina Quanzhou ke Brunei,[7] dan sejumlah monumen marmer yang diukir di Gujarat diimpor untuk menandai makam Muslim di kesultanan Sumatera Pasai, dan di Pesisir Jawa Timur.[8] Akan tetapi, kita juga melihat perkembangan bentuk-bentuk batu nisan lokal yang khas di Nusantara pada saat itu, seperti batu nisan Muslim gaya plang-pleng abad ke-15 di pantai Sumatra di Lamri,[9] serta perkembangan tradisi batu Aceh di kemudian hari, yang kemudian menyebar ke berbagai pulau di Asia Tenggara.[10]

Wilayah yang sama di Sumatera bagian utara ini juga merupakan rumah bagi negara pelabuhan pertama di wilayah tersebut yang mengidentifikasi diri mereka sebagai kesultanan: Pasai, yang muncul pada akhir abad ketiga belas. Masa ini juga menjadi saksi dari kebangkitan kembali jalur perdagangan Laut Merah ke Samudra Hindia, yang menghubungkan kembali Mesir dan Mediterania timur ke lingkaran Asia Selatan dan Cina dengan dinamisme baru.[11] Dalam lingkaran yang intensif ini, visi baru tentang keunggulan dan kekuasaan Islam menginspirasi ekspresi identitas Islam di Pasai. Raja Muslim pertamanya mengadopsi gelar pemerintahan dari penguasa Ayyūbid (and Mamlūk) abad ketiga belas al-Malik al-Ṣāliḥ, al- Malik al-Ẓāhir, and al-Malik al-Manṣūr.[12] Sirkulasi Islam di kepulauan Indonesia dan sekitarnya justru naik selama periode di mana kapur barus Sumatera mempunyai harga yang sangat tinggi di pasar Timur Tengah dan Eropa.[13]

Kebudayaan di Istana kesultanan Pasai di Sumatera awal tampaknya sebagian besar diekspresikan dalam bahasa Arab, dan menggunakan gaya yang juga ada di kesultanan lain pada masanya, termasuk Delhi, dengan gelar resmi pejabat pengadilan dan bangsawan yang berasal dari pusat kekuatan Muslim di India dan di tempat lainnya. Pengaruh budaya pada negara pelabuhan Muslim awal di Asia Tenggara sangat beragam dan bukan mentah-mentah salinan Islam seperti yang dibayangkan di mana pun, melainkan, sebagaimana yang dijelaskan Ludvik Kalus & Claude Guillot sebagai ‘alkimia budaya’ yang khas yang menghasilkan bentuk awal ekspresi Islam di Nusantara.[14]

Kebangkitan Melaka pada awal abad ke-15 berkaitan dengan meningkatnya permintaan pasar terhadap rempah di Cina, Timur Tengah, dan semakin meningkat di Eropa yang pada waktu itu rempah-rempah eksotis hanya dapat diperoleh dari beberapa pulau terkecil di ujung timur kepulauan Indonesia. Dalam seluruh ciri-cirinya, negara pelabuhan Melaka menjadi tempat penting perdagangan rempah antar-Asia di kawasan itu.[15] Para penguasa Melaka juga memeluk Islam dan mengambil gelar sultan sambil menjalinkan relasi yang semakin kuat dengan Cina. Justru pada waktu itu armada Zheng He, laksamana kasim Muslim Yunnan yang terkenal, berkali-kali singgah di pelabuhan Melaka untuk menegaskan posisi Cina dalam jalur maritim Asia selatan melalui pelayaran lintas Samudra Hindia.

Geoff Wade menggolongkan ekspedisi angkatan laut Cina tahun 1405-1433 sebagai sesuatu yang memiliki “efek tambahan yang tidak disengaja dengan menghubungkan komunitas-komunitas Muslim utama di Tiongkok selatan, dan penghubungan itu di seluruh Asia Tenggara dan India, dengan masyarakat dari pusat-pusat Islam besar di Asia Barat.”[16] Sementara armada besar ini berlayar melalui Selat Melaka melintasi Teluk Benggala ke Sri Lanka, Maladewa, Arab, dan Afrika Timur, kapal-kapal Cina lainnya tampaknya mulai berlayar langsung ke Maluku melalui pulau-pulau di kepulauan Filipina untuk berdagang cengkeh, pala dan bunga pala.[17]

Pada saat itu, aromatik yang langka ini juga menjadi barang perdagangan yang semakin populer di sepanjang jalur rempah ke arah barat melalui pelabuhan Pesisir di pantai utara Jawa ke Melaka, dan kemudian melintasi Samudera Hindia. Wilayah pesisir berkembang sebagai inkubator ekspresi budaya Muslim yang dinamis dan beragam dalam arsitektur dan bentuk lainnya, yang menginspirasi tradisi keagamaan yang berkembang di Jawa hingga saat ini.[18]

Pada paruh kedua abad ke-15, Islam diperkenalkan ke ‘Kepulauan Rempah’ (Spice Islands) melalui Pesisir Jawa – mungkin dibangun berdasarkan kontak sebelumnya dengan pelaut Cina Muslim. Warisan abadi dari sirkulasi budaya dan komersial ini masih dapat dilihat hari ini dalam bentuk seperti arsitektur masjid dan tradisi Muslim Maluku lainnya. Pada abad ke-15 juga, kemakmuran baru dan keunggulan politik di pelabuhan regional Asia Tenggara terkait erat dengan perpindahan dan perputaran komoditas langka ini, khususnya Melaka dan kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa. Keragaman komunitas pedagang Melaka ditandai tumbuhnya beberapa titik simpul dalam lingkaran dan lingkungan maritim di Asia Selatan pada abad keenam belas.

Selama periode awal ini, salah satu ‘rempah’ terpenting yang diperdagangkan di sepanjang jalur maritim ini adalah lada. Sebagian besar lada yang tiba di pelabuhan Cina pada waktu itu dikapalkan dari India melalui entrepôt Sriwijaya di Sumatra.[19] Dalam konteks jalur rempah antar-Asia ini, salah satu pengamat Barat paling awal, Marco Polo, menekankan kepada para pembacanya di Eropa pada abad ketiga belas bahwa, “satu muatan lada yang dikirim ke Alexandria atau di tempat lain, yang menuju wilayah kekristenan, pada saat yang sama, ada yang datang seratus seperti itu, ya dan lebih banyak lagi, ke surga Zaytun ini”[20] – yaitu, ke pelabuhan Quanzhou di Tiongkok selatan – tempat yang sama di mana batu nisan Muslim awal dikirim ke Brunei serta, tampaknya, ke awal Kesultanan Sulu di Filipina.[21]

Pada abad ke-15 kemudian perdagangan global lada baik timur maupun barat India berada kokoh di tangan jaringan saudagar Muslim yang menghubungkan batas terjauh dari dunia maritim Islam yang berkembang. Pada saat itu (setidaknya) Asia Tenggara telah menjadi titik pelayanan tidak hanya sebagai titik transit untuk impor ke Cina, tetapi juga tempat lada budidaya lada itu sendiri.[22] Anthony Reid berpendapat bahwa ekspor lada tumbuh dari wilayah tersebut pada saat itu menjadi titik layanan untuk menyediakan pasar Cina yang sedang booming dengan “strategi pasokan alternatif” sebagai respon terhadap gangguan di Malabar.[23] Impor lada dari Asia Tenggara meningkat pesat selama periode Ming dengan pasokan meningkat dari pelabuhan Sumatera serta dari Patani di semenanjung Malaya, Bantem di Jawa dan Banjarmasin di Kalimantan…” (114).[24]

Lada menjadi komoditas utama dalam ledakan perdagangan maritim melalui Ryukyu ke Cina Ming, yang membentuk dinamika Islamisasi yang cukup di Asia Tenggara pada abad ke-15, terutama dengan masuk Islamnya oleh penguasa Melaka di semenanjung Melayu. Didukung oleh kekuatan kemakmuran perdagangannya di sepanjang Jalur Rempah, Melaka menjadi titik berkembangnya model budaya Melayu-Muslim yang bergema di seluruh wilayah selama berabad-abad.[25] Pada abad keenam belas, lada menjadi komoditas utama yang mensubsidi muncul dan unggulnya kesultanan regional yang kuat di Banten, serta di Aceh, yang datang untuk menggantikan Pasai sebagai pelabuhan utama di Sumatera bagian utara.

Kesultanan Aceh menjadi penting selama abad keenam belas karena perannya dalam perdagangan lada intra-Asia dan karena pendiriannya sebagai pilar kontra-perang salib melawan kampanye Iberia untuk merebut kendali perdagangan lada dan komoditas mewah lainnya dari tangan Muslim.[26] Sumber-sumber dari periode tersebut melukiskan gambaran para petualang Portugis ‘mencari rempah dan orang- orang Kristen’, menjadikan pertemuan ini tidak hanya sebagai persaingan komersial, tetapi juga sebagai pertempuran iman melawan orang-orang kafir. Disini juga, bagaimanapun, kita harus membedakan antara mode yang berbeda dari keterlibatan Muslim dengan awal periode Eropa modern di wilayah tersebut, karena sikap ‘kontra perang salib’ terhadap Portugis pada abad ke-16 sangat berbeda dari sambutan hangat orang Inggris di sana pada abad ketujuh belas sebagaimana dibuktikan, misalnya, dengan surat-surat yang dikirim oleh masing-masing sultan dan sultan Aceh kepada James I dan Charles II.[27] Demikian pula di ujung lain Nusantara, para sultan di Kepulauan Rempah Ternate dan Tidore di berbagai masa menjadi sekutu dan musuh Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris secara bergantian. Dengan perbandingan yang sama, kita dapat melihat warisan awal benteng modern di sekitar Nusantara. Dengan perbandingan yang sama, kita dapat melihat warisan awal benteng modern di sekitar Nusantara. Menjamurnya benteng-benteng Eropa di Kepulauan Rempah Maluku sering dianggap sebagai simbol orientasi Eropa dalam Perdagangan Rempah. Agar lebih seimbang, kita mungkin harus melihat ke seberang nusantara ke bangunan benteng batu di Aceh pada abad ke-16 – benteng-benteng ini bukan dibangun oleh orang Eropa, melainkan oleh penguasa Muslim lokal yang menggambarkan kekuatan mereka melawan intrusi Portugis.

Kekuasaan dan kehormatan yang dimiliki kerajaan Aceh pada abad XVII memungkinkan mereka tidak hanya mengambil jubah budaya Melayu Muslim yang berakar pada tradisi Melaka sebelumnya, tetapi juga mengubahnya secara signifikan.[28] Di Aceh, seperti di Pasai dan Melaka pada abad-abad sebelumnya, banyaknya pengaruh dari berbagai daerah di sepanjang jalur Rempah berkontribusi pada berkembangnya ekspresi vernakular Islam tanpa satu sumber pun yang secara hegemonik menentukan bentuk-bentuk Islam yang datang di Nusantara.

Aceh adalah salah satu dari sejumlah kesultanan di Asia Tenggara yang memanfaatkan periode booming perdagangan dan menggunakan kemakmurannya untuk mengembangkan bentuk-bentuk baru budaya Islam di saat mereka mencapai tingkat kekuasaan dan prestise baru pada abad ketujuh belas. Di periode yang sama, ada dua kesultanan lainnya yang paling penting di Kepulauan Indonesia yaitu Banten di Jawa Barat dan Makassar di Sulawesi Selatan. Selain itu, dari kesultanan regional yang besar ini, berkembang gaya budaya yang berbeda berkembang yang kemudian berpengaruh dalam pembentukan tradisi lokal di sejumlah negara pelabuhan yang lebih kecil dari masyarakat sosial politik yang berkembang di seluruh pulau di Asia Tenggara selama abad ketujuh belas dan kedelapan belas – sebuah periode yang mungkin dipahami secara produktif sebagai zaman besar bahasa-bahasa Muslim.[29]

Pada saat Banten, Makassar, dan Aceh semuanya secara predemoinan merupkan kesultanan maritim, muncul juga bentuk politik Islam baru lainnya di kawasan: negara agraris Jawa: Mataram. Mataram berkembang terutama di bawah pemerintahan Sultan Agung (1613-1646). Sultan Agung dengan piawai memadukan unsur budaya Jawa dengan identitas keislaman yang kuat, untuk membangun suatu pondasi dari apa yang disebut Ricklefs sebagai ‘sintesis mistik’ yang membingkai Identitas dan pengalaman Muslim Jawa selama dua abad.[30]

Abad ke-17 menjadi puncak perkembangan kesultanan Asia Tenggara, sebagaimana munculnya periode pengaruh intervensi Eropa ke dalam perdagangan Jalur Rempah-rempah. Selama periode ini, Belanda secara khusus mengambil langkah-langkah yang semakin agresif mengejar monopoli perdagangan yang sulit dicapai dalam perdagangan yang sangat menguntungkan ini. Militerisasi produksi rempah-rempah di Banda benar-benar menghadirkan situasi yang menyedihkan dimana kekerasan dilakukan untuk tujuan ini – kisah tragis yang benar-benar menyebabkan kesengsaraan yang tak mampu diungkapkan di pulau-pulau tersebut yang tidak dengan sendirinya memuaskan Seventeen Gentlemen atas hasil-hasil yang diraupnya dari Banda ke Belanda.[31]

Tentu saja ada gerakan perlawanan dalam menghadapi upaya Eropa untuk memperpanjang penguasaan atas pulau-pulau Maluku dan komunitas Muslim lainnya di sepanjang Jalur Rempah Nusantara – dari Baabullah Ternate pada abad keenam belas hingga Nuku Tidore pada abad kedelapan belas.[32] Tokoh-tokoh ini dan tokoh lainnya yang seperti mereka dianggap sebagai Pahlawan Nasional oleh Republik Indonesia di masa kini, dan mungkin memang demikian. Namun kerangka modern dalam melihat sejarah jalur rempah seperti intervensi Eropa dan perlawanan lokal membuat banyak dari kita tidak siap atau bahkan tidak mampu mendalami sirkulasi multi-vektor yang kompleks dari beragam elemen budaya yang tumbuh di Nusantara sebelum kedatangan orang Eropa ke wilayah tersebut.

Miopik (rabun) mengenai sejarah intervensi Eropa pada masa yang lebih baru di kawasan itu tampaknya telah membutakan kita dari mengakui bahwa Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris pada periode modern awal dengan jelas telah berusaha menyusup ke jaringan jalur-jalur rempah antar-Asia yang didominasi oleh pedagang muslim. Memang, sirkulasi awal perdagangan dan budaya Muslim inilah yang mendorong ekspansi Islam di seluruh kepulauan Indonesia – dari berdirinya kesultanan-kesultanan Asia Tenggara awal hingga dipeluknya Islam secara massal oleh penduduk lokal di kemudian hari dan munculnya ekspresi khas Islam di Nusantara. Keadaan Miopia historiografis kita saat ini sangat ironis, karena orang Eropa pertama yang mencari kekayaan Hindia rupanya mengakui pentingnya Islam di bagian kepulauan Indonesia di mana rempah-rempah tumbuh, sebagaimana dibuktikan misalnya dalam pilihan penerjemah mereka – membawa penutur bahasa Arab dalam perjalanan mereka dan korespondensi diplomatik dalam bahasa Arab dan Jawi yang dibawa pulang ke wilayah-wilayah daulat mereka di Eropa. Lalu, mengapa begitu sulit untuk mengikuti petunjuk itu dalam menilik kembali sejarah kompleks awal Jalur Rempah pra-Eropa?

Hubungan dinamis yang menjadi ciri sejarah kemunculan dan konsolidasi Masyarakat Muslim di sepanjang jalur-jalur rempah-rempah menciptakan berbagai pemahaman dan pengalaman yang khas Islam dalam proses interaksi dengan budaya lokal yang beragam. Kita masih bisa melihat cerminan dari pemahaman dan pengalaman hari ini melalui materi budaya yang bertahan di berbagai wujud budaya yang luar biasa di kawasan. Upaya-upaya yang saya dan tim lakukan dalam rubrik Maritime Asia Heritage Survey Survey (Warisan Budaya Maritim Asia) adalah mencoba untuk secara sistematis mendokumentasikan dan melestarikan secara digital rekaman bentuk-bentuk budaya khas yang telah dikembangkan di seluruh wilayah selama sejarah panjang hubungan maritimnya.[33] Ekspresi budaya khas ekspresi Islam berkembang di berbagai bidang, termasuk arsitektur dan keramik – yang terakhir dalam banyak kasus diproduksi di luar Asia Tenggara dengan cara yang disesuaikan dengan selera Muslim di Nusantara. Di dalam kawasan Nusantara sendiri, perdagangan rempah-rempah menumbuhkan patronase atas bentuk khas tekstil, kriya logam, ukiran kayu, dan bentuk budaya material lainnya yang memiliki secara historis tumbuh sebagai ekspresi identitas dan pengabdian Islam. Pada saat yang sama, kita dapat melacak sejarah intelektual dan sastra daerah melalui pengembangan naskah yang menghadirkan tradisi tekstual Muslim yang kompleks dalam bahasa Arab serta sejumlah vernakular bahasa daerah Asia Tenggara.

Bagaimana sejarah jalur-jalur rempah telah membentuk Islam di Nusantara membutuhkan perspektif sejarah yang lebih panjang yang mengontekstualisasikan dan menafsirkan kisah Eropa yang sudah dikenal, dalam kaitannya dengan dinamika sirkulasi antar-Asia sebelumnya. Ekspresi budaya Islam yang terbentuk di berbagai pelosok Nusantara dapat dipandang sebagai kombinasi unsur-unsur yang kompleks untuk menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekedar penjumlahan atas bagian-bagiannya. Sementara, seperti yang telah saya sebutkan, dimana para sejarawan lain membahas ini sebagai suatu alkimia, namun untuk tujuan kita di sini hari ini mungkin lebih tepat jika kita membahasnya sebagai masakan. Dalam memasak makanan yang kaya dan kompleks, kombinasi bahan-bahan dari sumber yang jauh jaraknya kemudian diolah bersama untuk menghasilkan rasa baru dan berbeda yang melampaui rasa apa pun dari unsur tertentu.

Kembali ke warisan intelektual dan keagamaan Islam di Nusantara: Melampaui diskursus luas mengenai ‘cicip-mencicip’ atau dhauq dalam tradisi sastra Arab tasawuf, ‘aroma’ khas para wali sufi dirayakan dengan mengacu pada aroma tajam kepulauan Indonesia di salah satu teks-teks Arab paling awal yang menggunakan nisba ‘al-Jawi’. Dalam Mir’at al-jinan oleh al-Yafi’i, pengarang Arab yang terkenal itu menyifatkan gurunya, Mas’ud al-Jawi, secara puitis dengan menghadirkan perbandingan pada:

…the Jawa aloes, soothing freshness set upon the incense burner [with] the Jawa of these men, Mas’ud, of seasoned virtue (…gaharu Jawa, kesegaran yang menenangkan di atas pembakar dupa [seperti] ‘Jawa-nya’ dari orang-orang ini, Mas’ud, dengan keutamaan yang harum….)[34]

Tujuh abad yang lalu, sastrawan Sufi Arab terpelajar ini kemudian dengan jelas mengakui pentingnya Nusantara sebagai bagian dari dunia Muslim yang berkembang. Namun saat ini, jika seseorang mengunjungi makam para wali Sufi besar di pulau Jawa, angin yang membawa aromatik yang bernilai agama tampaknya telah berubah arah. Sekarang ada kesan bahwa bukan angin yang bertiup dari tanah Jawa ke barat tapi dari Arab berhembus ke Nusantara. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pembakar dupa ala Yaman yang dijual di kios-kios pasar di sepanjang jalur peziarah ke makam Wali Songo. Hal ini mungkin dipahami sebagai pembalikan simbolis yang signifikan dari apa yang kita temukan dalam teks yang baru saja saya kutip, yang menukil dan menampilkan syekh Arab menghirup aroma kesucian dari kapur barus dan rempah-rempah Nusantara. Namun, di sini sekali lagi, bisa jadi kita perlu mencermati perkembangan sejarah modern yang lebih pendek sudah mengaburkan pandangan kita akan masa lalu Islam yang lebih dalam dan sirkulasi multi-vektornya melalui Nusantara di sepanjang Jalur Rempah.


*) Paper ini dipresentasikan pada International Symposium “Cosmopolitanism of Islam Nusantara: Spiritual Traces and Intellectual Networks on the Spice Route.” Dilaksanakan oleh Fak. Islam Nusantara, UNUSIA, Jakarta 30-31 Agustus 2021.

**) Professor of Cross-regional Studies at the Kyoto University Center for Southeast Asian Studies

[1] R. Michael Feener (Ed.), Maritime Asia Heritage Survey: https://maritimeasiaheritage.cseas.kyoto-u.ac.jp/

[2] O.W. Wolters, Early Indonesian Commerce: A Study of the Origins of Srivijaya (Ithaca: Cornell University Press, 1967), 157.

[3] Wolters, op. cit., 139-158.

[4] Whitehouse, David. Siraf: History, Topography and Environment (Oxford: Oxbow Books, 2009).

[5] Feener, R. Michael. “Islam in Southeast Asia to c. 1800,” in: Oxford Research Encyclopedia of Asian History https://oxfordre.com/asianhistory/view/10.1093/acrefore/9780190277727.001.0001/acrefore-9780190277727-e-40

[6] Laffan, Michael. “Finding Java: Muslim Nomenclature of Insular Southeast Asia from Śrîvijaya to Snouck Hurgronje,” in Eric Tagliocozzo, Ed. Southeast Asia and the Middle East: Islam, Movement, and the Longue Durée (Stanford University Press, 2009), 17-64.

[7] Chen Da-Sheng.”A Brunei Sultan in the Early 14th Century: Study of an Arabic Gravestone,” Journal of Southeast Asian Studies 23 (1992).

[8] Lambourn, Elizabeth. ” From Cambay to Samudera-Pasai and Gresik–the export of Gujarati grave memorials to Sumatra and Java in the fifteenth century C.E.,” Indonesia and the Malay World 31.90 (2003): 221-284.

[9] Feener, R. Michael, P. Daly, E.E. McKinnon, L. Lum, Ardiansyah, Nizamuddin, N. Ismail, Y.S. Tai, J. Rahardjo, & K. Sieh, ““Islamization and the Formation of Vernacular Tradition in 15th-Century Northern Sumatra,” Indonesia and the Malay World (March 2021): https://doi.org/10.1080/13639811.2021.1873564

[10] Daniel Perret, Kamarudin Ab. Razak, and Ludvik Kalus, Batu Aceh: Warisan Sejarah Johor (Johor Bahru: École française d’Extrême-Orient and Yayasan Warisan Johor, 1999); Daniel Perret, Kamarudin Ab. Razak, Batu Aceh Johor : Dalam Perbandingan (Paris: EFEO, 2004).

[11] Abu-Lughod, Janet L. Before European Hegemony: The World System, A.D. 1250-1350 (New York: Oxford University Press, 1989).

[12] Johns, A.H. “Sufism in Southeast Asia: Reflections and Reconsiderations with Special Reference to the Role of Sufism.” Southeast Asian Studies 31.1 (1993): 50-51.

[13] Donkin, R.A. Dragon’s Brain Perfume: An Historical Geography of Camphor (Leiden: Brill, 1999), 166.

[14] Claude Guillot & Ludvik Kalus, Les Monuments Funéraires et l’Histoire du Sultanat de Pasai à Sumatra, XIIIe-XVIe siècles (Paris: Association Archipel, 2008). p. 117.  

[15] C.H. Wake, “Melaka in the Fifteenth Century: Malay Historical Traditions and the Politics of Islamization,” in Melaka: The Transformation of a Malay Capital, c. 1400-1980, edited by Paul Wheatley & Kernial Singh (Kuala Lumpur: Oxford University of Press, 1983), 104-128.

[16] Wade, Geoff. 2010. “Early Muslim Expansion in South-East Asia, Eighth to Fifteenth Centuries” in: New Cambridge History of Islam, III, edited by David Morgan and Anthony Reid (Cambridge: Cambridge University Press), 366-408.

[17] H.J. de Graaf, De Geschiedenis van Ambon en de Zuid-Molukken (Franeker: Uitgeverij T. Wever B.V., 1977), 22.

[18] Robson, S.O. “Java at the Crossroads: Aspects of Javanese Cultural History in the 14th and 15th Centuries,” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 137.2/3 (1981): 259-292.

[19] Derek Heng, Sino-Malay Trade and Diplomacy from the Tenth through the Fourteenth Century (Singapore: ISEAS, 2009), 97-98.

[20] Marco Polo, The Travels of Marco PoloThe Complete Yule-Cordier Edition (Dover, 2012)

II: 217

[21] Orlina, Roderick. “Revisiting Sulu Relics: Islamic Epigraphy from Jolo, Philippines,” in: Daniel Perret, Ed. Writing for Eternity: A Survey of Epigraphy in Southeast Asia (Paris: EFEO, 2018), 376-383.

[22] Hirth, Friedrich and W.W. Rockhill (tr. and ed.), Chau Ju-Kua: His Work on the Chinese and Arab Trade in the twelfth and thirteenth Centuries, entitled Chu-fan-chï (Frankfurt a.M.: Institute for the History of Arabic-Islamic Science, Johann Wolfgang Goethe University, 1996).

[23] Anthony Reid, Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450-1680, II: Expansion and Crisis (Yale University Press, 1993), 7.

[24] Roderich Ptak, “Trade Between Macau and Southeast Asia in Ming Times: A Survey,” in: Macau during the Ming Dynasty, Luís Filipe Barreto, Ed. (Macau: Centro Científico e Cultural de Macau, 2009), 87-118.

[25] Geoff Wade, “Southeast Asia in the 15 th Century,” in: Geoff Wade & Sun Laichen, Eds. Southeast Asia in the Fifteenth Century: The China Factor (Singapore: NUS Press, 2010), 26.

[26] A. Wink, “Al-Hind: India and Indonesia in the Islamic World Economy, c. 700-1800 A.D.,” Comparative History of India and Indonesia 3 (1989): 60-61.

[27] Gallop, Annabel Teh. “Gold, Silver and Lapis Lazuli: royal Letters from Aceh in the Seventeenth Century,” in: R. Michael Feener, Patrick Daly, and Anthony Reid, Eds. Mapping the Acehnese Past (Leiden: KTILV, 2011), 105-140.

[28] Andaya, Leondard Y. Leaves of the Same Tree: Trade and Ethnicity in the Straits of Melaka (National University of Singapore Press, 2010), 108-145.

[29] Feener, R. Michael. “Southeast Asian Localisations of Islam and Participation within a Global Umma, c. 1500-1800,” The New Cambridge History of Islam, volume 3. Anthony Reid and David Morgan, Eds., (Cambridge University Press, 2010), 470-503.

[30] M.C. Ricklefs, Mystic Synthesis in Java: A History of Islamization from the Fourteenth to the Early Nineteenth Centuries (Norwalk: Eastbridge, 2006).

[31] Des Alwi, Sejarah Maluku: Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon (Jakarta: Dian Rakyat, 2005).

[32] Muridan Widjojo, The Revolt of Prince Nuku: Cross-cultural Alliance-making in Maluku, c. 1780-1810 (Leiden: Brill, 2009).

[33] https://maritimeasiaheritage.cseas.kyoto-u.ac.jp

[34] Feener, R. Michael and Michael F. Laffan, “Sufi Scents across the Indian Ocean: Yemeni Hagiography and the Earliest History of Southeast Asian Islam.” Archipel 70 (2005): 185-208.

Related posts

Dekan Fakultas Islam Nusantara Sampaikan Kunci Perdamaian Papua

admin

Moderasi Beragama: Antara Negara dan Masyarakat Sipil

Dr. Ahmad Suaedy MA. Hum.

Jelajah Pustaka Nusantara (1): Risiko Profesi dalam Serat Jayengboyo

Ngatawi El-Zastrow