FIN UNUSIA
Uncategorized

Menelusuri Jejak Spiritual dan Intelektual Islam di Jalur Rempah Pantai Barat Sumatera

Makam di atas bukit: peristirahatan Hamzah Fansuri di Ujung Pancu, Aceh Besar

Pada hari Sabtu (16 Oktober 2021) hingga hari Rabu (27 Oktober 2021) tim peneliti dari Fakultas Islam Nusantara (FIN) Universitas Nahdlatul Ulama bekerjasama  dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melakukan penelitian lapangan di sepanjang Pantai Barat Sumatera. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri jaringan spiritual terutama Tarekat Syattariyah dan intelektual Islam di sepanjang jalur rempah Pantai Barat Sumatera.

Sumber peta: Tim Peneliti Pantai Barat Sumatera

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Samalanga, salah satu kecamatan di Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh. Di Samalanga tim peneliti berziarah ke makam Tun Sri Lanang, yang merupakan penulis dari kitab Sulalatus Salatin. Ia aslinya berasal dari Johor kemudian bermigrasi ke Samalanga dan diangkat menjadi pemimpin Kenegrian Samalanga. Kemudian tim peneliti berkunjung ke Dayah Mudi Mesra. Dayah (pesantren) ini diperkirakan telah ada sejak masa Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636 M). Dayah Mudi Mesra telah menghasilkan banyak ulama – ulama besar Aceh sejak masa kerajaan sampai masa Republik.

Dari Dayah Mudi Mesra, tim peneliti melanjutkan ke Dayah Darul Munawaroh, di Kutakrueng, Pidie Jaya. Dayah ini termasuk dayah baru, namun dayah ini adalah satu dari sedikit dayah di Aceh yang masih mengembangkan Tarekat Syattariyah. Dari pengurus dayah kita mendapat informasi bahwa meskipun berafiliasi dengan sejumlah tarekat, dayah ini lebih mengembangkan tarekat Syattariyah untuk santri maupun masyarakat sekitar.

Setelah melakukan silaturahmi dan wawancara dengan pengurus Dayah Darul Munawaroh, tim peneliti kemudian mengunjungi makam Ahmad Khatib Langien. Menurut penuturan juru kunci makam, Syeikh Muhammad bin Khatib Al-Langien atau Teungku Ahmad Khatib Langien adalah guru dari Abu Habib Muda Seunagan. Teungku Khatib Langien juga dikatakan telah menulis sebuah kitab yang diberi judul Dawa’ul Qulub (Obat Hati). Kitab ini bersama dengan beberapa kitab lain, seperti Hidayatul Awan, Kasyiful Kiram, Syifaul Qulub  Mawaizul Badi’ah, ‘Ilamul Muttaqin, Talkhisul Falah dan Faraidh Al Quran, dihimpun dan disatukan oleh Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib Al Asyi menjadi kitab yang dikenal sebagai Kitab Lapan. Lokasi selanjutnya yang di kunjungi adalah Makam Syiah Kuala (Syekh Abdurrauf bin Ali Al-Fansuri) di Banda Aceh. Di kompleks makam ini terdapat makam yang dinisbahkan kepada Syekh Abdurrauf bin Ali Al-Fansuri, istri beliau, beberapa murid dan para penjaga makam. Lokasi kompleks makam berada di dekat Kuala Krueng Aceh (Sungai Aceh) dan pantai yang dikenal dengan sebutan Pantai Syiah Kuala. Kenyataan ini juga yang menyebabkan Syekh Abdurrauf bin Ali Al-Fansuri digelari Teungku Syiah Kuala oleh masyarakat Aceh. Selain memainkan peran sebagai pengembang Tarekat Syattariah, Syekh Abdurrauf bin Ali Al-Fansuri berperan juga sebagai Qadi Malikul Adil pada masa 4 sultanah (raja perempuan), yaitu Sultanah Safiatuddin Syah (1641 – 1675 M), Sultanah Naqiatuddin Syah (1675 – 1678 M), Sultanah Zakiatuddin Syah (1678 – 1688 M) dan Sultanah Kamlat Syah (1688 – 1699 M).

Komplek makam Syekh Abdurrauf al-Fansuri (Syiah Kuala)

Hari berikutnya tim peneliti mengunjungi makam yang dinisbahkan kepada Hamzah Fansuri. Lokasi makam yang berada di atas bukit ini terdapat di daerah Ujung Pancu, Aceh Besar. Selanjutnya, tempat yang dikunjungi adalah benteng Indrapatra. Benteng ini merupakan peninggalan dari masa pra-Islam di Aceh. Namun, benteng ini masih dipergunakan sebagai benteng pertahanan pada masa kerajaan Aceh untuk melindungi pesisir pantai Aceh dari serangan kapal-kapal musuh. Tidak begitu jauh dari Benteng Indrapatra, terdapat Makam Laksamana Malahayati, seorang laksamana (pemimpin perang) pada masa Sultan Iskandar Muda yang memimpin para pelaut Inong Bale, yaitu pasukan para janda korban perang.

suasana di dalam Benteng Indrapatra, Aceh Besar
Berziarah di makam Laksamana Keumalahayati

Tempat selanjutnya yang dikunjungi adalah Dayah Tanoh Abee yang berlokasi di Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar. Dayah Tanoh Abee ini didirikan oleh Syekh Fairus Al Baghdady pada sekitar tahun 1627 M. Beliau mengembangkan Islam melalui Tarekat  Syattariyah yang dalam perjalanan waktu dikenal sebagai Teungku Chik Tanoh Abee. Pada masa kepemimpinan Syekh Fairus Al Baghdady (1600 – 1650 M), Dayah Tanoh Abee berada di wilayah Sagou XXII Mukim di sebuah desa yang bernama Gampong Tanoh Abee. Sagou XXII Mukim ini diperintah oleh Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa. Generasi silsilah selanjutnya dari keturunan ulama Tanoh Abee adalah Syekh Nayan Fairus Al Baghdady (1620 – 1680 M). Jalur Tarekat Syattariyah yang dibawa oleh Syekh Nayan Fairus Al Baghdady berasal dari jalur Tarekat Syekh Abdurrauf bin Ali Al-Fansuri. Namun, setelah 4 generasi dibawah Syekh Nayan Fairus Al Baghdady, Tarekat Syattariyah di Tanoh Abee tidak lagi terhubung (bersilsilah) dengan Syekh Abdurrauf bin Ali Al-Fansuri. Di Dayah Tanoh Abee, selain diajarkan Tarekat Syattariyah juga diajarkan beberapa bidang ilmu pengetahuan seperti Fiqih Dusturi (Hukum Tata Negara), Fiqih Duali (Hukum Internasional), Sejarah, Akhlak atau Tasawuf, Ilmu Hisab dan Ilmu Falak, Filsafat dan Ilmu Kalam, Mantiq, Tafsir dan Hadist.

Pada Masa kepemimpinan Syekh Nayan Fairus Al Bahgdady, perpustakaan Tanoh Abee mulai dibangun. Perpustakaan ini merupakan salah satu perpustakaan tertua di Aceh yang sampai saat ini menyimpan ribuan naskah kuno. Pada masa Syekh Nayan memimpin Dayah Tanoh Abee, kepala Sagou XXII Mukim – Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa – mengangkat Syekh Nayan menjadi Qadhi Rabbul Jalil (Hakim Tinggi Sagou XXII Mukim). Setelah itulah posisi Qadhi Rabbul Jalil pada Sagou XXII Mukim secara turun temurun dijabat oleh pemimpin Dayah Tanoh Abee. Sampai akhirnya posisi ini dihapuskan pada masa kolonial.

Dayah/Zawiyah Tanoo Abee, Seulimum Aceh Besar

Dari Banda Aceh, tim peneliti bergerak ke Pantai Barat Sumatera menuju wilayah Singkil.  Dalam perjalanan menuju kota kecil tepi pantai ini, tim peneliti singgah ke Nagan Raya untuk berziarah ke makam Abu Habib Muda Seunagan sekaligus melakukan wawancara dengan juru kunci makam. Habib Muda Seunagan adalah salah satu tokoh Tarekat Syattariyah di Pantai Barat Sumatera. Jama’ah Tarekat Syattariyah di Nagan Raya merupakan salah satu komunitas Syattariyah yang terbesar di Pantai Barat Sumatera meskipun jejak sejarahnya masih relatif muda. Tiba di Singkil, tempat yang dikunjungi oleh tim peneliti adalah Makam Syekh Abdurrauf As-Singkili. Menurut penuturan Jamaah Syattariyah di Singkil dan Pariaman, Syekh Abdurrauf As-Singkili adalah tokoh yang berbeda dengan Syekh Abdurrauf  bin Ali Al-Fansuri yang makamnya berada di Banda Aceh. Sementara, selama ini kebanyakan peneliti menganggap bahwa Syekh Abdurrauf bin Ali Al-Fansuri adalah juga Syekh Abdurrauf As-Singkili. Para jamaah Tarekat Syattariah di Singkil dan Pariaman juga beranggapan Syekh Abdurrauf As-Singkili yang makamnya berada di Singkil adalah tokoh yang menjadi guru Syekh Burhanuddin Ulakan. Sebelum tahun 1980, makam Syekh Abdurrauf As-Singkili sebetulnya belum diketahui. Makam tersebut sebelumnya hanya dikenal sebagai makam keramat yang berada di tepi Sungai Singkil. Berdasarkan mimpi dari salah satu tokoh tarekat yang ditugaskan untuk mencari makam Syekh Abdurrauf As-Singkili dan petunjuk dari guru Tarekat Syattariyah di Pariaman pada pertengahan tahun 1980-an, makam keramat tersebut ditetapkan sebagai makam Syekh Abdurrauf As-Singkili.  

Makam Syekh Abdurrauf As-Singkili yang berada di tepian Sungai Singkil

Dari Singkil tim peneliti singgah di Barus untuk mengunjungi titik nol Peradaban Islam Nusantara dan berdialog dengan tokoh local di kota kecil tersebut, lalu bergerak menuju Mandailing Natal. Di sini tim peneliti melakukan observasi di Pesantren Mustofawiyah dan berziarah ke Makam Pendiri Pesantren tertua di wilayah Tapanuli Selatan tersebut. Kemudian meneruskan perjalanan ke Pariaman, Sumatra Barat. Di kampung ini, tim peneliti berziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan. Sebuah komplek pemakaman yang megah dengan masjid besar dan parkir yang cukup luas di sebuah kampung tepi pantai barat Sumatera. Selesai berziarah,  perjalanan dilanjutkan menuju Surau Gadang Syekh Burhanuddin di Tanjung Medan. Di Surau inilah pada masa hidupnya Syekh Burhanuddin mengajarkan ilmu-ilmu agama dan Tarekat Syattariyah kepada murid-muridnya.

Di dalam Kubah Makam Syekh Burhanuddin Ulakan bersama Juru Kunci Makam.

Dari pengamatan di lapangan, dapat disimpulkan bahwa bandar-bandar rempah seperti Banda Aceh, Singkil, Barus, dan Pariaman menjadi simpul penting dari jaringan spiritual dan intelektual Islam di Pantai Barat Sumatera. Ini dibuktikan dengan kehadiran makam-makam ulama besar di bandar-bandar tersebut yang pada masa hidupnya berperan dalam mengembangkan ajaran Islam melalui ajaran tarekat dan fiqih mazhab Syafii. Selain makam, dayah atau zawiyah lama seperti Mudi Mesra dan Tanoh Abee juga memainkan peran sebagai pembentuk agen-agen intelektual Islam (ulama) dan penjaga khazanah intelektual Islam berupa manuskrip-manuskrip dan kitab keagamaan. Meski Zawiyah Tanoh Abee tidak berlokasi persis di pesisir, namun zawiyah ini mengambil lokasi yang dekat dengan aliran sungai sehingga memudahkan transportasinya menuju Banda Aceh sebagai pusat bandar di ujung Sumatera. Pola seperti ini juga ditemukan di Dayah Mudi Mesra, Makam Syekh Abdurrauf As-Singkili, dan Surau Gadang Syekh Burhanuddin Ulakan yang semuanya mengambil lokasi dekat dengan aliran sungai.

Dengan demikian, sungai juga menjadi bagian penting dari pembentukan jaringan spiritual dan intelektual Islam di sepanjang jalur rempah. Sungai berperan sebagai jalur penghubung dari hinterland (kawasan hulu atau pedalaman) menuju foreland yang merupakan kawasan pesisir, dimana bandar-bandar rempah berada. Bandar-bandar rempah di Pantai Barat Sumatera umumnya berlokasi di pinggir pantai. Dalam kaitan antara hinterland dan foreland inilah, sungai berperan penting membuka jaringan spiritual dan intelektual Islam di sepanjang jalur rempah Pantai Barat Sumatera.

Tim Peneliti Pantai Barat Sumatera (Deny Hamdani dan Muhammaf Affan)

Related posts

Jalur Rempah dan Pembentukan Budaya Vernakular Muslim Nusantara*

admin

Kapan Sejarah Kemerdekaan Indonesia Harus Mulai Ditulis

Dr. Ahmad Suaedy MA. Hum.

Rempah Nusantara dalam Catatan Pelancong Arab Abad 9-13 M

Idris Masudi