FIN UNUSIA
Uncategorized

Menyigi Formasi Awal Islam di Pantai Timur Sumatera

Tim Penelitian Pantai Timur Sumatera, yang digawangi oleh Ahmad Suaediy (Dekan Fakultas Islam Nusantara, Universitas Nahdhlatul Ulama (UNUSIA)) dan Johan Wahyudhi (Mahasiswa Semester 3 Program Doktoral UNUSIA) berkesempatan menjajal penelusuran sejarah di Sumatera mulai tanggal 9 – 21 Oktober 2021. Tim ini adalah satu dari tiga tim yang dibentuk berdasarkan kerjasama UNUSIA dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, Teknologi (Kemendikbud Ristek) yang bertugas meneliti jalur rempah di Sumatera, dengan fokus perkembangan komunitas Muslim awal abad XIII – XVI. 

Keberangkatan ditempuh dengan penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, Banten dan mendarat dengan selamat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang.

Wilayah jelajah penelitian ini mencakup Sumatera Selatan, Jambi dan Riau.

Di Palembang, Tim Pantai Timur berkunjung ke sejumlah lokus-lokus sebaran rempah, seperti di pesisir Sungai Musi, Sungai Babat (Pedamaran) dan Sungai Ogan. Tidak lupa, terbentuknya komunitas Muslim di masing-masing sungai itu juga dicatat. Tidak jauh dari bekas Kraton Kutogawang, lokasi istana pertama Kesultanan Palembang, terdapat Situs Air Bersih, yang menurut OW Wolters, di abad XIV, pernah menjadi tempat bermukim pedagang Tionghoa Muslim. Pedamaran pernah menjadi daerah yang kaya berkat hasil panen damar yang melimpah. Di tengah Sungai Ogan, tepatnya di wilayah Kertapati, terdapat Pulau Seribu, pulau yang di abad XVI awal, pernah menjadi tempat pembelajaran agama bagi Raden Patah saat berusia belia.

Bersama Hengki Honggo (kiri), sejarawan Tionghoa Palembang,di pinggir Musi

Tim Pantai Timur juga sempat mengunjungi Sungsang, yang merupakan muara dari Sungai Musi. Penduduk Sungsang di masa kini, ada yang berdarah Bugis. Di era kesultanan, penduduk Bugis bekerjasama dengan Sultan Palembang dalam menghalau ancaman yang datang dari lepas pantai Sumatera Selatan. Dari Sungsang, dapat terlihat Gunung Menumbing di Pulau Bangka, yang tidak jauh darinya terdapat pelabuhan internasional Muntok. Kunjungan ke tempat ini, membuat tim tertengun selama beberapa saat. Betapa jejaring rempah rupanya juga berimplikasi pada terbangunnya kerja sama yang baik, antara orang Jawa, Melayu dan Bugis saat berhadapan dengan pasukan kolonial. Setelah beberapa hari menghabiskan waktu di Palembang, tibalah saatnya perjalanan diteruskan ke Jambi. Daerah ini dibelah oleh keberadaan Sungai Batanghari. Di salah satu sudut pesisir sungai ini, terdapat Perkampungan Arab Melayu yang disebut Kampung Seberang. Di Kampung ini, terbaring jasad ulama Hadramaut yang berjasa menanamkan ajaran Islam di pesisir Batanghari, yang bernama Habib Husein bin Ahmad Baraqbah yang hidup sekitar abad XVI. Tim Pantai Timur mendapat informasi bahwa telah terbangun kekerabatan yang erat antara orang Melayu dan Arab di kampung ini, sehingga dikotomi budaya yang kerap ditemukan saat menelaah hubungan orang Arab dan pribumi pada abad XIX di Hindia Belanda, tidak dijumpai di sini.

Di depan Makam Habib Husein Baraqbah

Tim juga melakukan penelisikan ke Muaro Tembesi, wilayah yang merupakan pertemuan tiga aliran sungai, yang juga menjadi tempat pemberhentian aneka barang dagang dari Darmasraya (sekarang masuk Sumatera Barat). Di sini, terdapat peninggalan Kompeni, berupa pergudangan, kantor, bioskop, penjara dan lain sebagainya. Penelusuran sumber sejarah juga dilakukan ke Kuala Tungkal, yang diduga menjadi pelabuhan penting di era Kesultanan Jambi. Suasana sejuk khas pantai dihangatkan oleh seduhan kopi AA, kopi yang menjadi idola warga Jambi.

Setelah berkelana mengunjungi hulu dan muara Sungai Batanghari, perjalanan dilanjutkan ke Pekanbaru. Hal yang paling disayangkan di sini, adalah tidak adanya kesempatan mengunjungi Tembilahan, wilayah pelabuhan yang diduga tempat bermuaranya aneka komoditas dari pedalaman Riau, seperti lada, cengkeh, kayu dan lain sebagainya. Kendati demikian, tim cukup beruntung karena berhasil mencapai makam Syekh Burhanuddin yang terdapat di Desa Kuntu, Kabupaten Kampar. Menurut penjelasan Elya Roza, sejarawati dari UIN Sultan Syarif Kasim, Syekh Burhanuddin, hidup sekitar abad XII, adalah tokoh tertua yang mengajarkan aneka ragam pengetahuan Islam ke masyarakat Riau. Diperkirakan, ia datang dari Barus, lantas melewati Indragiri Hulu dan menempuh perjalanan hingga ke Kuntu.

Dekan Fakultas Islam Nusantara UNUSIA Jakarta di depan Makam Syekh Burhanudin Ulakan di Desa Kuntu, Kampar, Riau

Sepanjang perjalanan Palembang – Pekanbaru, tim bertemu dengan banyak ahli sejarah dan penggemar sejarah yang dengan keluasan hatinya, bersedia berbagi informasi sejarah tentang wilayah setempat. Tim mengucapkan terima kasih yang tak terhingga pada Nyimas Ummi Kulsum, Dedi Irwanto, Gianto, Malan Abdullah, Hengki Honggo (Palembang), Prof. Suadi, Irmawati Sagala, Ali Muzakkir, Fuad (Jambi), Wilaela, Hanafi, Alimuddin, Elya Roza (Pekan Baru) dan teman-teman lainnya yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu. Informasi dari mereka, sangat membantu kerja penulis dalam menuntaskan kerja besar memetakan jaringan rempah dan spiritual-intelektual pra-Kesultanan. 

*) Dr. Ahmad Suaedy, MA.Hum dan Johan Wahyudi, M.Hum

Related posts

Jalur Rempah dan Pembentukan Budaya Vernakular Muslim Nusantara*

admin

Agama dan Kebudayaan dalam Perspektif Moderasi Beragama

Dr. Ahmad Suaedy MA. Hum.

Model Penelitian Hukum Islam

M. Ishom El-Saha