FIN UNUSIA
Esai

Modal Sosial Pondok Pesantren

Modal sosial (social kapital) merupakan unsur penting yang melekat pada lembaga sosial seperti halnya pondok pesantren. Mengingat eksistensinya di tengah-tengah lingkungan masyarakat maka lembaga sosial-keagamaan indigeneous ini tidak disangsikan lagi melekat unsur-unsur tradisi lokal khususnya menyangkut ritual keagamaan masyarakat setempat. Pondok pesantren juga tidak sepi beragam kearifan tradisi yang adaptif dengan mikroskopik-lokalitasnya, meminjam istilah Abdurrahan Wahid (2007) disebut sub-kultur. Kekhasan khazanah tradisi dan budaya pesantren beserta langgam simbolik dari manifestasi semangat ideologisnya merupakan sosial pesantren yang membuat tetap eksis dan sustainabel.

Dalam konteks kearifan tradisi pesantren, gambaran mengenai modal sosial pesantren dapat dinukil pandangan Irwan Abdullah (2002) yang menyatakan, bahwa bagian dari social capital adalah paham ideologi dan tradisi lokal yang menunjuk kepada pemikiran tertentu dalam menyikapi hidup dan tatanan sosial. Pemaknaan ideologi dan tradisi tersebut dapat berupa: (i) sistem kepercayaan setempat yang merupakan basis bagi legitimasi tindakan sosial; (ii) ajaran-ajaran yang menjadi sistem referensi di dalam tingkah laku yang terwujud dalam pola interakasi sosial; (iii) etika sosial merupakan prinsip-prinsip yang mengatur hubungan manusia dengan manusia atau manusia dengan lingkungan masyarakatnya; (iv) etos kerja yang merupakan motor penggerak untuk pencapaian tujuan-tujuan perubahan dan kemajuan; (v) nilai-nilai tradisi yang menentukan sesuatu yang ideal dalam masyarakat; dan (vi) norma-norma yang merupakan perangkat aturan yang menata tingkah laku kehidupan bersama.

Menurut Robert D. Putnam (1999), sosial kapital merujuk pada keutamaan-keutamaan oraganisasi sosial seperti misalnya, jaringan-kerja, norma-norma, dan kepercayaan masyarakat yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama untuk suatu keuntungan bersama. Sifat maupun bentuk modal sosial berbeda dengan modal manusia, tapi satu sama lain saling mendukung untuk tercapainya tujuan bersama. Apabila elemen dasar modal manusia tertumpu pada wujud skill dan pengetahuan yang melekat pada diri seseorang (Lawang, 2005), maka unsur inti yang mendekati modal sosial berupa intimasi dan kepercayaan antar person mapun antar lembaga (Field, 2010).

Derajat hubungan relasional antar kiai pengasuh misalnya, ataupun relasi antara kiai dan santri serta alumninya adalah kelaziman yang senantiasa terbangun di pesantren. Intimasi atau hubungan yang dekat dan mendalam merupakan associability yang ada pada individu, yaitu kemampuan untuk bisa bersosialisasi secara luas, dan kemampuan melakukan interaksi sosial yang dibarengi dengan kemampuan memacu aksi-aksi kolektif (di masa basis) yang memadahi dalam menggalang usaha bersama untuk kemaslahatan umat (masyarakat). Ini berarti, peranan sosok Kiai/Nyai dengan pola kepemimpinan kharismatik dinilai lebih efektif dalam menggerakan aktivitas pesantren katimbang penerapan tipe kepemimpinan yang lain. Lebih karena basis ketaatan yang dibangun pengasuh pesantren lebih didasarkan pada modeling atau dengan memberikan contoh langsung dan suri keteladanan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dalam bentuk pola pengasuhan kepada para santri selama 24 jam dan model pendidikan sistem pamong (Dewantara, 1952).

Dalam konteks ini pula, menurut James S. Coleman (2010), modal sosial dinilai lebih merepresentasikan sumber daya karena hal itu melibatkan resiprositas atau saling memberikat manfaat antar pihak, dan melampaui individu-individu manapun sehingga melibatkan jaringan sosial yang lebih luas yang hubungan-hubungannya diatur atau ditunjang tingkat kepercayaan (shared trust) dan nilai-nilai bersama. Bahkan Coleman menekankan, modal sosial apabila dilihat berdasarkan fungsinya bukan merupakan sebuah entitas tunggal, melainkan terdiri dari pada beberapa entitas dengan dua elemen yang sama, yaitu aspek struktur sosial dan tindakan-tindakan sosial yang difasilitasi sebagaimana mestinya.

Menyangkut jaringan yang melekat pada modal sosial, Field (2010) menegaskan, bahwa jaringan sosial termasuk sebuah aset yang paling bernilai, selain banyak mendatangkan manfaat ekonomi juga memberikan dasar kohesi sosial karena mendorong tiap-tiap orang dapat bekerja satu sama lain atau saling bekerjasama untuk mencapai tujuan yang sama pula. Karena itu juga keaatan santri kepada kiai tidak sebatas ketika mengaji di pesantren. Perilaku ketaatan tersebut terus berlangsung hingga ia tamat belajar dan boyong ke kampung, bahkan senantiasa tak putus-putus penghormatannya meskipun Sang Kiai telah wafat.

Sejatinya, social networking seperti dicontohkan tadi terbentuk tidak harus kepada orang-orang yang telah dikenal akrab secara pribadi dan langsung, sebab cara kerjanya dalam rangka memperoleh manfaat timbal balik (resiprositas) antara yang satu dengan yang lain sudah jelas saling menguntungkan. Max Granoveter (1985) menekankan akan peran penting jaringan sosial yang dinilainya dapat terjadi baik pada tingkat struktur sosial skala luas maupun pada tingkatan mikroskopik. Dengan terbangunnya jaringan sosial tersebut otomatis setiap aktor (individu atau kolektivitas) sama-sama memiliki peluang untuk mendapatkan akses yang berbeda terhadap sumberdaya yang bernilai seperti akumulasi kekayaan, kekuasaan dan informasi (Ritzer dan Goodman, 2011).           

Selain memiliki modal kepercayaan (trust) serta modal kerekatan hubungan antarkeluarga besar kiai dan kedekatan relasi dengan para alumni dan masyarakat sekitar di samping pihak-pihak lainnya, pondok pesantren juga memiliki kearifan tradisi yang selalu dipelihara dan telah mengakar di kalangan masyarakat akar rumput (Soebahar, 2013). Sekedar contoh, sampai saat ini terbukti masyarakat masih tetap mempercayakan pendidikan anak-anak mereka belajar ngaji di pondok pesantren. Bahkan tidak jarang masyarakat yang berkunjung ke pesantren hanya untuk berkonsultasi kepada kiai di luar urusan pendidikan dan keagamaan, seperti halnya meminta amalan-amalan (ijazah) ataupun bimbingan hikmah (Kuntowijoyo, 2008). Adapun soal besar kecilnya dukungan masyarakat terhadap pesantren (kiai) hal itu sangat tergantung pada faktor kewibawaan dan otoritas keilmuan seorang pemimpin pesantren. Semakin tinggi kealiman dan kesalehan seorang kiai otomatis masyarakat pendukungnya akan semakin tambah percaya dan kian menaruh hormat kepadanya. Begitupun yang terjadi sebaliknya, jika otoritas keagamaannya menurun khaismanya pun ikut serta (Sobary, 1998).

Adapun sumber kekuatan lain yang sangat menopang keberlangsungan pesantren yaitu kepemilikan jaringan sosial (social networking) yang senantiasa dirawat. Menurut pendapat Horiko Horikoshi (1987), setidaknya terdapat tiga bentuk jaringan yang sangat berperan dalam pengembangan pesantren: Petama, jaringan kekerabatan atau hubungan keluarga antar sesama kiai pesantren. Kedua, jaringan yang terbentuk dari sebab transmisi keilmuan, yaitu hubungan kiai pondok pesantren dengan pesantren yang lain karena masing-masing pernah belajar di pesantren yang sama, atau hubungan antara kiai dengan para santrinya yang tetap berlangsung sepanjang hayat. Dan ketiga, jaringan kiai dengan organisasi masyarakat atau dengan pemimpin lokal dan bahkan nasional.

Pola relasi tersebut dapat diartikan sebuah cara membangun kemitraan strategis dan saling menguntungkan. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan (Islam) yang bertujuan mendidik anak-anak bangsa menjadi manusia unggul, mandiri dan berkarakter (berakhlak karimah), yang sebenarnya menjadi tugas negara, dalam hal ini pemerintah. Berjejaring dengan negara misalnya, pesantren “berkepentingan” mengadopsi sistem pendidikan nasional (SPN). Secara teknis serta tuntutan praksisnya dijalankan melalui jalur administrasi akademik yaitu mengikuti sistem akriditasi lembaga pendidikan yang dilakukan secara periodik dan terukur.

Justru yang penting disadari di sini bahwa sistem akreditasi pendidikan merupakan bentuk instrumentasi negara untuk mengontrol lembaga-lembaga sipil melalui aparat birokrasi pada  kementerian terkait. Sebenarnya tidak menjadi masalah selama hubungan tersebut memang sama-sama saling menghormati. Walapun di luar kepentingan tersebut secara fisik pesantren bisa menjalin ikatan antarpersonal seperti melalui para alumninya yang bekerja di jajaran birokrasi pemerintahan. Dan sebagai bentuk imbalannya, maka konsekuensi dari pada wujud pengakuan negara, pesantren memperoleh alokasi bantuan biaya operasional sekolah (BOS), tunjangan sertifikasi guru/ustadz dan bantuan pendidikan untuk siswa miskin dari Pemerintah Daerah setempat, atau yang lazim disebut BOSDA. BOS maupun BOSDA serta jenis bantuan lain untuk pesantren, baik dalam bentuk fisik bangunan dan non-bangunan seperti pelatihan peningkatan kapasitas SDM pesantren, termasuk pengiriman buku-buku paket pelajaran, dapat dikatakan serangkaian instrumentasi negara (negaranisasi pesantren), —yang diakui atau tidak, dapat mempengaruhi sendi-sendi kehidupan pesantren. Walhasil, terbentuknya modal sosial pondok pesantren yang dapat didayagunakan dengan baik membuktikan keberadaan pesantren (kiai) benar-benar telah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dan negara yang mengakuinya sebagai tempat pendidikan dan pengajaran agama Islam yang nyata-nyata memberikan kemaslahatan kepada lingkungan sekitarnya. Pada tataran konsepsional modal sosial pondok pesantren sebenarnya lebih merepresentasikan sumberdaya yang turut melibatkan reprositas, dan melampaui individu-individu manapun sehingga melibatkan jaringan yang lebih luas yang hubungan-hubungannya berlangsung teratur serta ditunjang tingkat kepercayaan (shared trust) dan nilai-nilai hidup yang dikikuti bersama secara harmoni. Wallahu a’lam bish-shawab.***

Related posts

Menjaga Keselamatan Diri Lebih Penting Dari Ritual Ibadah

Ngatawi El-Zastrow

“Wali” Perempuan Penyebar Islam di Nusantara: Nyi Ratu Ageng dan Nyi Dyah Roso Bag-I

Ngatawi El-Zastrow

‘Raison d’etre’ of Islam Nusantara

Deni Hamdani